Sunday, February 24, 2008

FOOTBALL FOR HOPE

Peta kemakmuran dunia memang asimetri. Pemberitaan dan citra visual di media massa dapat mengilustrasikan hal ini dengan baik. Akan sulit bagi kita untuk menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat miskin di Afrika misalnya, dan segelintir masyarakat yang begitu makmur di utara Eropa dan Amerika, adalah berasal dari spesies yang sama. Dalam hal kekayaan, fasilitas, harapan hidup, kesehatan dan pendidikan, keduanya sangat berbeda.

Masyarakat Amerika Serikat misalnya, membelanjakan sedikitnya delapan miliar dollar AS setahun untuk kosmetik, padahal hanya dengan dua miliar dollar AS setahun dapat memenuhi hak semua orang pada pendidikan.

Di Eropa, orang-orang membelanjakan sekitar 11 miliar dollar AS untuk es krim, sedangkan hanya sembilan miliar dollar AS yang dibutuhkan untuk menjamin akses semua orang miskin pada air bersih dan sanitasi.

Kemewahan tidak terkecuali menyentuh juga sepakbola, olahraga paling populer di dunia. Lihat saja perputaran hadiah uang di Liga Champions Eropa musim 2006/2007 yang mencapai 579,6 juta Euro. Atau gaji Steven Gerrard, skipper Liverpool dan timnas Inggris, yang kabarnya mendekati angka enam juta pounds per tahun, atau sekitar 2,1 miliar rupiah setiap pekannya.

Melalui penggunaan tekhnologi komersialisasi yang canggih, sepakbola modern, terutama di Eropa Utara, telah bermetamorfosa menjadi sebuah industri hiburan masa kini dengan perputaran uang yang begitu melimpah.

Tentu saja begitu sulit untuk membandingkan perputaran uang di sepakbola dengan minimnya dana yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di seluruh belahan dunia. Keduanya berada dalam wilayah yang berbeda, meski terkadang memperlihatkan irisan yang begitu nyata.

Salah satu irisannya adalah sebuah pertanyaan etis: apakah sepakbola masa kini juga ikut melestarikan kesenjangan yang begitu mencolok diatas, antara pentas kemewahan dan neraka kemiskinan?

Apakah berlimpahnya uang yang dihabiskan dalam industri sepakbola juga menjadi bentuk ketidak-pedulian masyarakat, sementara di tempat lain jutaan orang meski menghadapi kemiskinan absolut?

           Melawan Kemiskinan
Posisi sepakbola terhadap kemiskinan sesungguhnya sangat kompleks, elusif dan dapat dikaitkan dengan banyak sudut pandang. Berlimpahnya uang mungkin saja ditafsirkan sebagai potret kesenjangan yang menyakitkan bagi masyarakat miskin. Mengapa orang-orang begitu mudah mengeluarkan uang untuk sepakbola, sedangkan bantuan internasional untuk pembangunan millennium (MDGs) hanya ditargetkan sekitar 130 miliar dollar AS pada tahun 2010 nanti.

Akan tetapi, cobalah bertanya pada Samuel Eto’o di Barcelona, Carlos Tevez di Manchester United, atau Fallah Johnson di Persik Kediri, mengenai sepakbola dan kemiskinan. Maknanya akan begitu berbeda. Sepakbola bagi mereka adalah harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Football for hope.

Sepakbola berada dalam lintasan dimana harapan diproduksi, disebarkan dan diinternalisasikan oleh anak-anak miskin yang bermain sepakbola di benua Afrika, di jalan-jalan pemukiman kumuh di Brazil, juga di kampung-kampung di negeri ini.

Mahouve Marcell, pemain Persita Tangerang, yang merupakan anak legenda Kamerun Roger Milla dan pernah bermain di klub Montpellier (Prancis), mengungkapkan bahwa meski ia kini bermain untuk klub yang lebih kecil, ia merasa lebih beruntung dibanding jutaan rakyat Kamerun lain yang mesti bergelut dengan kemiskinan.

Selain menjadi jalan untuk memperbaiki kesejahteraan, sepakbola juga menjadi hiburan yang menyenangkan bagi masyarakat miskin. Dalam momen-momen tertentu sepakbola menjadi pembangkit kebanggaan, medium bagi negara-negara miskin untuk mensejajarkan diri dengan negara maju, sekaligus menjadi aktivitas dimana masyarakat miskin bisa melupakan sejenak kesulitan yang mereka hadapi setiap hari.
          
          Kampanye Global
Pada tahun-tahun terakhir ini, sepakbola tampak lebih aktif dalam keterlibatannya dengan kemiskinan. Insan sepakbola mungkin saja ingin mereduksi persepsi mengenai ketidak-pedulian etis mereka terhadap kemiskinan.

Sepakbola kini punya sebutan lain: football in the fight against poverty. Bentuknya bukan sekedar slogan dukungan, tapi juga penggalangan dana untuk mereduksi kemiskinan.

Seperti sebuah pertandingan bertajuk Match against Poverty di estadio Rosaleda, Malaga, Spanyol, yang mempertemukan tim Ronaldo dan tim Zinedine Zidane menjadi satu contoh dari partisipasi aktif dunia sepakbola melawan kemiskinan. Pertandingan pada November 2007 lalu, dengan 28.963 penonton itu, menghasilkan dana yang digunakan untuk menyediakan peralatan sekolah bagi 3000 anak-anak di Haiti, membantu pembangunan pusat kesehatan dan sekolah di Congo, hingga menciptakan 350 pekerjaan konstruksi di Sri Lanka, dimana 75 tempat cuci dan 44 toilet public, serta banyak tempat penyediaan air bersih dibangun.

Sepakbola juga ikut ambil bagian dalam kampanye global Stand Up Against Poverty pada 15 dan 16 Oktober 2007, yang melibatkan 43.716.440 partisipan di sekitar 127 negara di seluruh dunia. Sepuluh stadion di Italia akan menjadi host bagi kampanye Stand Up, dimana sebelum pertandingan setiap kapten kesebelasan membacakan deklarasi melawan kemiskinan.

Juga di Meksiko, dimana Federasi Sepakbola Meksiko memastikan kampanye Stand Up akan menjadi bagian dari setiap pertandingan sepakbola pada tanggal 15 Oktober di seluruh negeri itu.

Bagaimanapun, tanggung jawab, atau lebih tepat disebut kepekaan (altruisme sosial) industri sepakbola ini adalah salah satu potret untuk menyebarkan hasrat saling menolong diantara masyarakat.

Satu harapan yang mencerahkan dari Zinedine Zidane setelah pertandingan amal di Malaga, bahwa sepakbola memiliki kemampuan untuk memperlihatkan rasa solidaritas yang tinggi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi UNDP.

Lebih jauh, sepakbola dapat menjadi salah satu wahana eksistensial dalam menjawab tantangan terberat akan kemiskinan: bahwa kemiskinan di masa depan akan menjadi sekedar catatan masa lalu di museum. Dimana pertandingan-pertandingan amal untuk mengumpulkan dana, seperti di Malaga itu, tidak perlu lagi dilakukan di masa depan.

No comments: