Monday, December 10, 2007

Penunda Kronis

Ketika Isaac Newton masih remaja, ilmuwan kebanggaan Inggris itu menunda menyatakan isi hatinya pada Victory -anak gadis dari keluarga dimana Newton tinggal selama menempuh pendidikan di London. Selain karena tidak berani, Newton beralasan ingin berkonsentrasi untuk belajar. Padahal, Victory jelas juga menyukainya. Sampai kemudian Victory menikah dengan orang lain, Newton tidak pernah mengungkapkan hasrat cintanya. Dan bahkan tetap mem-bujang hingga akhir hayatnya.

Apa yang dilakukan oleh sir Isaac Newton tersebut, yakni menunda sesuatu, pasti pernah juga kita alami. Menunda belajar, sampai kita harus ‘kebut semalam’ sebelum ujian. Menunda mengungkapkan isi hati pada orang yang kita suka. Menunda meminta maaf, atau menolong orang lain. Menunda menghentikan kebiasaan buruk yang katanya terlihat keren: seperti merokok, meng-konsumsi napza, hingga begadang. Serta masih banyak contoh kebiasaan menunda lainnya dalam keseharian kita.

Menunda adalah manusiawi. Don Marquis, seorang penyair Amerika, menyebut penundaan sebagai ‘seni manusia dalam menyanjung hari kemarin’.

Namun, dibalik sisi manusiawi dari tingkah laku menunda, ada juga yang disebut sebagai penunda kronis. Dalam istilah psikologi, penunda kronis dikenal mengidap chronic procrastination atau the tomorrow syndrome.

Menunda kronis bukan sikap menunda seperti biasa. Tetapi karakter kepribadian atau kebiasaan yang melekat pada salah satu ruang mental kita. Karakter ini dapat mengakibatkan perasaan tidak puas, berpeluang merusak hubungan sosial, menghancurkan cita-cita ataupun membuat kita kerap merasa bersalah.

Intinya, karakter mental ini menjebak kita di tempat yang sama, tanpa kemajuan dan pertumbuhan.

Pemimpi Yang Malas

Jika kita menyempatkan waktu untuk diri sendiri, dan kemudian berusaha mengevaluasi diri, maka kira-kira akan seperti apakah gejala-gejala penunda kronis tersebut?

Frank J. Bruno, melalui buku tematiknya, Psychological Symptoms, membantu kita mengidentifikasi hal-hal spesifik yang mencirikan seorang penunda kronis.

Menurut Dr Bruno penunda kronis suka bekerja tergesa-gesa di detik-detik terakhir. Mereka seperti senantiasa dikejar-kejar oleh deadline, dan seakan tidak memiliki cukup waktu dalam melakukan setiap hal. Mereka juga kerap melakukan tingkah laku yang menghamburkan waktu, menghayal dan berharap tanpa melakukan sesuatu.

Penunda kronis tinggal dalam mimpi yang malas, dengan kepala penuh rencana yang tidak realistis, tetapi tanpa melakukan apa-apa. Seringkali mereka sekedar berbicara dan memikirkan sesuatu, tanpa segera bertindak.

Gejala lainnya, penunda kronis merasa sangat terbebani dengan tanggung-jawab dan sulit menikmati aktivitas-aktivitas rekreasional. Kebiasaan menunda mengakibatkan semua pekerjaan harus dilakukan sekarang juga -di hari yang pendek dengan tugas yang menumpuk.

Dan gejala, sekaligus akibat terburuk dari habit ini adalah ketidak-mampuan dalam mencapai prestasi penting dalam hidup. Dengan tidak melakukan sesuatu secara benar dalam waktu yang cukup, atau tidak melakukannya sama sekali, maka banyak kesempatan untuk berkembang yang akan terbuang.

Mereduksi Kebiasaan

Jika gejala yang disebutkan diatas sepertinya menjadi bagian dalam diri kita, maka memulai untuk mengenali dan menghentikan kebiasaan menunda tersebut adalah tindakan yang penting. Sebelum nantinya kita menyesal dan melewatkan banyak hal-hal penting dalam hidup.

Yang paling mendesak dalam mengendalikan kebiasaan menunda, seperti disarankan oleh James R. Sherman dalam buku Stop Procrastinating-nya, adalah bertindak tanpa banyak bicara.

Ketika mengerjakan sesuatu, kita akan lebih efektif dengan menggunakan pendekatan ‘task oriented’, bukan ‘time oriented’. Dimana rangkaian dan keberhasilan pekerjaan kita diukur -serta dikendalikan- berdasarkan tugas yang harus kita kerjakan, bukan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Selain itu, penerapan Premack’s Principle juga dapat dicoba oleh para penunda kronis. Prinsip ini dapat diterjemahkan dalam bentuk saran: tempatkan tugas yang tidak menyenangkan (kerja) sebelum tugas yang menyenangkan (bermain). Dengan melakukan tugas yang sulit, akan menarik tingkah laku kita ke tingkatan yang lebih tinggi.

Dalam banyak hal di hidup ini, kita sebaiknya menetapkan tujuan yang realistis, dan dapat dikelola dengan menyenangkan. Toh, kita juga jarang sekali mencapai tujuan yang tinggi hanya dalam satu kali lompatan.

Self Discovery

Bagian tersulit bagi penunda kronis adalah keluar dari wilayah ‘aman’-nya. Karena, kebiasaan menunda seringkali terjadi pada tugas-tugas atau sesuatu yang baru, yang memungkinkan munculnya kecemasan dan ketakutan akan kegagalan. Semisal mengungkapkan cinta pada gadis keren di sekolah, masuk ke dalam lingkungan baru, mencoba pekerjaan atau kebiasaan-kebiasaan baru, hingga mengungkapkan pendapat di depan banyak orang.

Untuk mengatasi hal yang satu ini, Dr Bruno menegaskan bahwa kita terjebak dalam paradigma ‘yang meminta kita untuk mengatasi kecemasan dulu, baru kemudian bertindak’.

Padahal, jika kita mulai bertindak sebelum merasakan cemas, kita akan menemukan bahwa tindakan itu akan mengurangi kecemasan dan membangun kepercayaan diri kita. Sehingga, sesekali bertindaklah terlebih dahulu, baru berpikir dan merasakannya.

Dengan melakukan ini, kita mungkin akan terkejut, bahwa kita dapat menemukan kualitas diri -atau talenta tersembunyi- kita secara sederhana, melalui suatu tindakan yang kita lakukan. Kita belajar dengan mempraktekkannya. Dan bahkan, hasil dari pola tingkah laku ini dapat membantu kita dalam mengenali diri, yang biasanya disebut sebagai self-discovery.

Bagaimanapun, sama seperti kebanyakan ‘terapi tingkah laku instan’ yang marak belakangan ini, merubah kebiasaan ‘menunda kronis’ menjadi sangat bergantung pada diri kita.

Keberhasilan merubah kebiasaan buruk sebagian besar terletak pada kemampuan untuk memanfaatkan energi swa-bantu (self-help) kita. Bagaimana kita menolong diri sendiri, mengendalikan dan mengarahkan hidup kita menjadi lebih baik.

Karena musuh terbesar yang mesti kita taklukan terlebih dahulu, adalah diri kita sendiri. ­

Saturday, December 08, 2007

Peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional - 3 Desember

Kode genetik terpenting dalam peradaban global saat ini adalah media informasi. Superioritas media sebagai agen peradaban tercermin dari kapasitasnya dalam membangun opini publik, mengarahkan gaya hidup dan trend pemikiran.

Media dapat menghibur, mengajar, mendidik, sekaligus menyesatkan kita. Tanpa henti, dengan variasi yang tidak pernah berakhir. Seringkali kita mengikuti arus, bereaksi pada isu-isu tertentu akibat stimulus media.

Salah satu produksi persuasif media adalah ritual untuk memperingati hari-hari tertentu. Di bulan Desember, salah satu hari yang populer adalah 1 Desember, sebagai Hari AIDS internasional.

Dan umumnya, dalam sisi yang kontras, kelesuan publisitas mengakibatkan hal-hal tertentu terlupakan. Seperti peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional pada tanggal 3 Desember, yang banyak diantara kita nampak tidak mengetahuinya.

Padahal, bentuk-bentuk ekspresi sosial telah digunakan di pelbagai negara oleh penyandang cacat, atau belakangan disebut dengan difabel (different ability, bukan disabled).

Ritual peringatan tahunan ini seringkali terinspirasi oleh aksi duduk penyandang cacat Amerika di kantor Federal San Fransisco pada tahun 1977, yang merupakan manifestasi pemeliharaan rasa bangga dan solidaritas dalam komunitas difabel.

Masyarakat Kelas Dua
Penyandang cacat terkadang dihakimi sebagai ‘an existence which should not exist’, eksistensi yang seharusnya tidak ada. Dan tanpa disadari, telah menjadi masyarakat kelas dua. Suatu prototipe masyarakat yang didesain untuk menerima diskriminasi fisik dan non-fisik.

Diskriminasi bahkan dilakukan oleh orangtua. Diantaranya dengan mengisolasi anak cacatnya dalam rumah, membatasi relasi sosial anak dengan dunia luar, dan membuatnya tampak tidak berdaya.

Fungsi tradisional keluarga tenggelam ditengah able-bodied culture, sejenis budaya eugenik dalam masyarakat yang memberi label orang cacat sebagai nasib buruk.

Budaya able-bodied tercermin dalam kristalisasi nilai-nilai tertentu yang menjadi norma sosial, penindasan samar yang terlembagakan tentang habituasi mengasihani diri sendiri, hingga ketergantungan pada rumah, lembaga sosial dan masyarakat.

Keadaan masif yang tercipta tentang buruknya posisi komunitas difabel di Indonesia juga merupakan produk dari kelambanan sejarah perubahan di negeri ini.
Lambannya pemerataan pembangunan dan kualitas pendidikan, penanggulangan krisis ekonomi, kemiskinan hingga pemberantasan korupsi.

Dengan demikian, untuk merangsang perubahan yang lebih progresif, maka upaya mentransformasi contoh-contoh terbaik dalam lanskap gerakan persamaan hak asasi komunitas difabel di berbagai belahan dunia menjadi begitu penting. Seperti Independent Living Movement di Amerika pada pertengahan tahun 70-an, dan di Jepang sebagai pengikut terbaiknya satu dekade kemudian.

Gerakan Self-Help
Independent Living merupakan filosofi gerakan yang terkait dengan penyediaan layanan bagi penyandang cacat berbasis masyarakat. Sebuah sistem berpikir dan cara hidup yang meng-integrasikan kemandirian dan alternatif untuk menjalani kehidupan berlandaskan self-help (menolong diri sendiri).

Pusat-pusat Independent Living di Amerika dan Jepang umumnya memiliki program semisal peer-counseling (konseling swa-kelompok), pendampingan bagi penyandang cacat, dan pelayanan rumah singgah.

Berbagai program tersebut mentransfer sikap, tingkah laku dan skill sosial yang dibutuhkan kaum difabel untuk hidup di masyarakat. Melalui kelas-kelas peningkatan kepercayaan diri, motivasi untuk hidup dan memperkuat self esteem (Tsutsumi & Higuchi, 1998).

Dengan visi besar Independent Living-lah, komunitas difabel di kedua negara maju tersebut menjadi organisasi modern yang cukup mapan, memiliki kapasitas bertahan dan bernegosiasi dengan pemerintah secara memadai.

Penyandang cacat di Amerika dan Jepang dapat hidup independen dengan sarana-sarana publik yang aksesibel, dan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menikmati hidup. Pencapaian ini tentu membutuhkan organisasi gerakan yang kuat dan proses panjang.

Bagaimanapun, peringatan tahunan ini bukan sekedar sebagai medium sosialisasi bagi gerakan kemandirian komunitas difabel, tetapi juga menjadi embrio berkelanjutan yang mencerahkan kesadaran masyarakat.

Kesadaran yang diawali ketika pendataan jumlah individu difabel dilakukan secara lebih akurat, para orang tua tidak lagi malu dan mengurung anaknya yang cacat di rumah, serta tata ruang publik mencerminkan lingkungan bersahabat yang manusiawi, memberikan kemudahan bergerak dan ‘ramah orang cacat’.

Juga ketika kita mulai memandang penyandang cacat dengan lebih baik, mengenalinya dengan komunitas berkemampuan berbeda (different ability) bukan tidak berkemampuan (disabled), serta tidak menjadikannya sebagai manusia eksklusif (yang patut dikasihani).

Yang jauh lebih penting, ketika organisasi difabel mengekspresikan apa yang mereka butuhkan, seperti keyakinan yang selama ini mulai dikembangkan: ‘jangan pernah membicarakan hak-hak difabel, tanpa melibatkan kita (penyandang cacat)’.

Pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa isu tentang komunitas difabel ini penting? Bahkan bagi orang yang tidak cacat sekalipun. Jawabannya persis sama dengan bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena kemiskinan.

Empati yang dangkal, pengabaian kronis dalam masyarakat, ataupun tidak adanya energi tersisa untuk memperhatikan hal-hal yang secara pragmatis tidak menguntungkan. Ini adalah noda dalam identitas kemanusiaan kita.

Permasalahan sosial seperti ini bukan sekedar beranalogi bagaimana kalau besok kita cacat atau menjadi miskin. Semuanya bisa saja terjadi.

Tetapi, yang diperlukan adalah proses menggugah kesadaran serta mengembangkan masyarakat yang saling menolong, mengaktualisasikan kembali kolektivitas dan struktur keramahan, yang ironisnya mulai berkurang belakangan ini. Padahal, menurut keyakinan banyak ahli sosial Eropa, masyarakat yang inklusif adalah berakar dari negara agraris, seperti Indonesia!

Sunday, December 02, 2007

Belajar Di Alam

"Dan bukan hanya sebuah impian, melainkan kenyataan yang besar, intipan ke kehidupan yang lebih tinggi, kemungkinan kemanusiaan yang lebih luas, yang di tengah-tengah kesibukan dan hingar-bingar kehidupan, berhenti selama empat tahun yang pendek untuk mempelajari makna hidup" -WEB Dubois-

Orientasi Pengenalan Kampus merupakan interaksi mutual pertama antara mahasiswa baru dengan kehidupan kampus secara langsung. Seperti model rekayasa pengalaman dalam setting pendidikan lainnya, ospek sejatinya merupakan ritual saling menolong.

Ritual untuk membantu mahasiswa baru yang sedang melompat dalam terra incognito, daerah yang tidak dikenal, lingkungan yang sama sekali baru dengan beragam pengalaman yang baru pula.

Bentuk bantuan dari setiap kampus tersebut, diantaranya adalah: berbagi pengalaman terdahulu, menyediakan alam artifisial untuk beradaptasi, mendesain 'jembatan transisional', hingga membuka pintu dan menunjukkan dunia perkuliahan -suatu kompleksitas dunia yang nantinya akan dialami dan dihayati oleh mahasiswa baru tersebut.

Metamorfikom

Model jembatan transisional, atau media metamorfosis bagi pelajar sekolah menengah menjadi mahasiswa tersebut, dapat dirancang menjadi tempat belajar yang mencerahkan, untuk kemudian diintegrasikan dengan visi dan nilai-nilai filosofis dari kampus masing-masing.

Dan kampus ekstensi Fakultas Ilmu Komunikasi, satu dari sedikit fakultas di Universitas Padjadjaran - Bandung, yang mengadakan kegiatan di luar area kampus, dengan supervisi dari HIJAU DAUN -lembaga outbound training- telah membangun rangkaian kegiatan pembelajaran dalam ospek yang bertajuk Metamorfikom 2007.

Bagian akhir dari Metamorfikom ini adalah kegiatan outbond training dengan model pembelajaran utama diarahkan pada team building package. Outbond yang diselenggarakan pada 31 Agustus hingga 2 September di bumi perkemahan Ranca Upas, Bandung Selatan ini, diikuti oleh 113 mahasiswa baru -dari jumlah 149 mahasiswa yang mendaftar di kampus ekstensi Fikom Unpad.

Visi dari kegiatan ini adalah membantu mahasiswa baru mengenali dan mengeksplorasi diri mereka, lingkungan baru dimana mereka akan berada, serta sikap-sikap dan tingkah laku yang diperlukan; sebagai modalitasmengenali, mengeksplorasi dan .ng-masing. dalam menjalani transformasi diri menjadi mahasiswa.

Untuk itu, melalui outbond training diciptakan lingkungan tanpa-stres, yang memberikan kenyamanan bagi setiap mahasiswa baru untuk mencoba hal-hal baru dan melakukan kesalahan, namun terus di-encourage untuk mencapai keberhasilan.

Bagi HIJAU DAUN, menjamin suasana belajar yang menyenangkan secara emosi adalah mutlak diperlukan. Seperti diyakini riset-riset terbaru mengenai pembelajaran di seluruh dunia, emosi positif bukan hanya sangat membantu proses belajar, tapi juga dapat meningkatkan keterlibatan dan umpan balik dari pembelajar, sekaligus menciptakan memori yang kuat.

Selain belajar di alam, suasana yang menyenangkan dapat terbentuk ketika belajar dilakukan bersama-sama dengan orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu istirahat dan jeda yang teratur, serta antusiasme yang disebarkan oleh semua orang yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut.

Dengan suasana belajar tanpa tekanan, kampus ekstensi Fikom Unpad dan HIJAU DAUN mendesain agar lima indikator keberhasilan yang menjadi perhatian penting dari kegiatan outbond training Metamorfikom 2007 ini dapat tercapai, yakni: kepedulian, kepemimpinan, etika, kedisplinan dan cinta almamater.

Pengenalan Diri

Dalam kegiatan outbond sebagai rangkaian ospek, selain kekhawatiran mengenai sulitnya mengontrol kegiatan massal di luar kampus yang identik dengan kontak fisik dan budaya senioritas, pertanyaan eksistensial lain mengenai outbond adalah mengapa harus melakukan kegiatan di alam?

Kegiatan di alam bukan sekedar memungkinkan terbangunnya suasana baru antar mahasiswa, atau bagian dari filsafat penghijauan global yang marak belakangan ini saja, tapi kegiatan di alam juga memberikan ruang yang lebih luas bagi kita untuk mengenali diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Dengan berada di alam, kita menanggalkan apa yang disebut John Naisbitt sebagai wired species; identitas kita yang terbentuk karena pengaruh tekhnologi di sekitar kita. Di alam bebas, kita berhenti sebentar, keluar dari hingar bingar kehidupan yang bagi beberapa dari kita sungguh melelahkan.

Melalui kesederhanaan dan nir-tekhnologi, berada di alam mendorong kita untuk mengenali perasaan-perasaan terdalam kita, emosi dan kepekaan sosial kita, yang dapat kita ekspresikan secara manusiawi, lebih bebas dan tidak superfisial.

Pada titik inilah model outbond training memiliki irisan filosofis dengan visi dari kegiatan ospek secara umum. Bahwa sebelum mahasiswa baru mengenali perubahan-perubahan yang terkait dengan status identitasnya sebagai mahasiswa, mahasiswa baru semestinya disediakan sebuah wahana pembelajaran untuk lebih mengenali diri mereka sendiri.

Karena, kehidupan perkuliahan memang tempat dimana perubahan-perubahan banyak terjadi dalam diri kita. Bagi banyak ahli psikologi perkembangan, bagian terpenting dari proses perubahan ini adalah kemampuan mengenali diri sendiri.

Dengan mengenali diri sendiri, setiap mahasiswa akan memiliki seperangkat keyakinan mengenai diri mereka, dan dapat mengintegrasikan dimensi-dimensi kualitas dari diri mereka dengan nilai-nilai kebaikan yang diakui masyarakat mengenai 'karakteristik mahasiswa yang baik'.

Kebaikan Simulasi

Selain sebagai wahana belajar untuk lebih mengenali diri dan lingkungan sosial di sekitar kita, outbond training juga didesain untuk menyediakan pembelajaran berbentuk simulasi dan permainan-permainan psikologis.

Simulasi dapat menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan setiap orang belajar dengan melibatkan seluruh pikiran -otak kanan dan otak kiri- serta semua indera pada tubuh kita.

Prinsip dari simulasi adalah kita belajar dari apa yang kita kerjakan secara langsung, dan dengan umpan balik yang relevan. Kita belajar cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya, kita belajar bekerjasama dengan melakukan suatu proyek secara bersama-sama, ataupun kita belajar memimpin dan lebih peduli dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan hal tersebut dapat muncul secara nyata.

Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak. Dengan menjamin bahwa pada simulasi tersedia peluang untuk terjun langsung dalam suatu kegiatan, mendapatkan umpan balik, merefleksikan dan melakukannya kembali.

Proses inilah yang disebut Janet Murray, peneliti senior MIT -Massachusetts Institute of Technology, sebagai memindahkan apa yang kita pelajari dalam dunia 'simulasi' menuju dunia 'nyata'. Simulasi memberikan pengaturan kembali segi-segi kognitif dan perubahan dalam kehidupan emosional kita, sebagai akibat dari keterlibatan emosi ketika kita melakukan simulasi. Berbekal desain yang tepat, simulasi dapat menjadi bagian dari pengalaman hidup kita dan membantu membentuk pandangan-dunia kita.

Dengan demikian, kegiatan outbond memungkinkan belajar bukan mengonsumsi informasi semata, tetapi juga berkreasi. Ketika mahasiswa baru memadukan pengetahuan dan keterampilan baru yang mereka dapat, ke dalam struktur diri dan stuktur tingkah laku mereka.

Melalui outbond training, dan diperkuat oleh rangkain kegiatan ospek lainnya, diperkenalkan berbagai hal yang akan membentuk karakteristik mahasiswa nantinya. Apakah kita, para mahasiswa, akan menjadi 'manusia kamar'-nya Albert Camus, yang hidup hanya untuk diri sendiri, atau menjadi senyawa terpenting dari kelompok 'creative minority'-nya Arnold Toynbee, yang hidup dan hakikat eksistensialnya terkait dengan kebaikan masyarakat.

Bagaimanapun, kita berharap bahwa ospek dapat menjadi wahana belajar terbaik yang akan ikut berperan dalam membentuk kualitas diri mahasiswa baru di masa depan.

Monday, November 26, 2007

Prosperity Without Door


Based on Merril & Capgemini research which published in Hongkong (16/10), Indonesia is a state with third highest growth of the wealth (16,0%) in Asia-Pacific, after Singapore (21,2%) and India (20,5%). Even, growth of the wealth in Indonesia almost twice of global growth which around 8,3%.

On the other hand, The World Bank reports disclosed that almost 45 percent of Indonesia's 220 million people survive on daily expenditures of between US$1 and $2 (The Jakarta Post, 9/12/06). And, based on Central Statistics Agency publicity, about 39 million, or 17.5 percent of the total population live below the poverty line.

After more than 62 years on ‘big push’ development, the portrait of our prosperity discrepancy seems become a disturbing fact.

Consequence from 'the wealth-poor divider’ is quite real. Two species of Homo sapiens which almost differ are visibly expanding. News and visual image in mass media can illustrated this matter quite well, and also can lead us to the fidget ideas about the future.

Will be difficult for us to explain that backward community at Papua, (included people in low settlement at metropolises), and the elite at Jakarta for example, are come from same species.
In the case of wealth, properties, facility, survival prospect, education and health, both are quite different.

This matter can generate an apocalyptical inquiring: may we cover this social gap, at least at vanishing difference in years come?

Nevertheless, its will be more difficult for us to explain the genealogy of this social discrepancy. Maybe its true that poverty caused by social-culture custom regarding to deficiency of ‘the progressive desire'. But, if Professor Muhammad Yunus judgment is right, social-economy system which controlled by the elite therefore also become determinant in lameness of 'the wealth-poor divider’ at present.

For many social thinkers in the entire world, problem at this greedy society is a hole, one deep part that empty; without moral philosophy or a set of kindliness principle which moving it.

On the contrary, the dynamic energy that activates this society is individualism, desire to dominates, and unappeased motivation to control nothing but a money. Each new technology must available at our house, this is 'obsession to take all till exhausted'. Its existential philosophy is 'I go shopping, so I am exists'.


Social Disorder

Behind this acute discrepancy, the potentially problem’s derivation is because it’s visual image which sometimes glamorous other community with scene about prosperity, about greatness and sophisticated, but ironically provide a pittance access for other community to achieve that prosperity.

It’s like make a window that showing (abundant) prosperity, but without 'door' for other community to pass by.

Prosperity which only mirage and merely can be stared at the luxurious presentation in our television, without access and equal opportunity for each citizen to feels it.

Consequences from this 'prosperity without door' are well depicted by Carlos Fuentes (through his novel, Christopher Unborn; Pan Books, 1990) as provocative hatred philosophy.

This ‘philosophy of action' translated by some of society with pillage behavior at the riot act at 1998. An expensive consequence from the exact opposite of two escalation: the excessive wealth increase among a few people, inversely with the poor acceleration which progressively poor.
This broken community, or social disorders, is one of the urban ills which is elusive (Wheeler & Beatley, 2004), and must be reduce as early as possible by all of us.

Moral Philosophy
However, this poverty rate will push us in debate about how to reducing poverty with the highest quality programs.

If we analyze various programs to reducing poverty, MDGs for example, one of the important pillars is international aid. This aid force each developed countries to share prosperity, and more than that, to make a ‘crossing door’ for all sort of other society to pursue their backwardness.

Helping each other, sharing prosperity, and provide a bridge to passed together for more equities life is most valuable moral philosophy in lessening big discrepancy which have been formed during the time. This is become the basis for sophisticated economic program, empowerment and education, and also other unceasing equivalence efforts.

For modern social psychologist, this mutually helping society is healthy and positive, because focused at cooperation strength and human’s positive values to achieve the collective well-being.

According to conviction of Martin Seligman, pioneer of positive psychology, essence from this model is not simply living, but also thriving. Wherein the strength of society emphasized in individual; which their accomplishment, satisfaction and their meaningful of life, interrelated to actualization of their whole self-potencies for the society goodness.

National Final Examination (UN), Damages The Happiness of Learning

'Student assessment have to take place locally, in class, with face to face feed back, and not performed from long distance, assessed mechanically, and returned with some score, suggestion or rectification about what must be done
-Howard Gardner, Professor of Education at Harvard University, United States of America-

Formerly, before graduated standard at junior and senior high school specified in certain passing grade, there is never emerge an objections as much as this time. Several objections judge that national exam is only government project, which have potencies to harm many sides, including student itself.

Their objections consist of various reasons. Its start at neglecting of student basic rights, provide unjust reality because students hard work in learning -during three years- must be vanished in short 120 minute of national exam, up to a debatable passing grade which convinced not yet conform to the quality of our education process, particularly at under-develop regions with minimum facility.

For many students, it seems fun if there is no passing grade for graduate exam. More than anything else, if there is no exam at all.

Then, publics surely want to know, why government constantly insists to execute national exam every year? Isn't it true that, in Indonesia, to step into higher level education, student must through another entrance exam again?


T
o answer this matter, we will definitely involve in continuous debate with different way of approach.

According to the philosophy of education that prevailing in our society for many years, most important purpose of school exam is to know, or to measure how far the efficacy rate of learning process. Teacher, parents, government, higher level education institution, and even company which we will work later, needs to know how much knowledge advance occurs through certain exam.

Examination also can assist student to learn more diligent. Including to providing a feedback about how well student comprehend the lesson items.
Thereby, examination, especially which interrelated with international standard and have purpose to convert our knowledge advance in the form of score, usually connected to many broader interests.

But, based on the recent approach -like humanistic view, or from accelerated learning movement- examination will have a quite different meaning.

Examination is just one small component. It’s not a decisive factor for all education process. The important thing is how we take an appropriate response to the result of the examination. If its result less satisfying, what can be done by student -assisted with teacher- to improve the learning process, and to obtain better score in future. Not destroying the happiness of learning by telling 'You Failed', and become a permanent mark that will remembered by the student for their lifetime.

Therefore, as points out by Professor Gardner above, assessment system need to be directly integrated into everyday school activities, not merely execute at the end of school year. And our education quality is not determined by national final exam alone, but from how far student can learn with their optimal capacities.

However, the existence of final examination will constantly become dilemma. Even, at nations with established education system which far better than us. Myron Tribus, one of education consultant at USA, asserted that unceasing of efforts to eliminate system assessment in education with score minded -also currently in effect at industrial field- requiring time through years.

In Indonesia, there is huge possibility that this dilemma will increase sharply. In accordance with quality of our teaching-learning process which still worrying, and in the middle of global demand for determined our education quality’s position through this quite competitive world.
In the end, there is one resolution which we must always believe in; that, the first aspect to improve is learning qualities in school.

Examination really needs to simply to mapping the result of learning. And through this map, we can develop a sustainable improvement in all regions at our country, both for student and also for our education system.

Improvement for our learning quality related to overall education system -hardware, software, and brain ware. Such best teachers which guiding student, inviting student to learn how 'the way of learning' far better, creating learning environment without stress and fear from failure, and also realize an adequate infrastructure.

The highest education quality with enjoyable atmosphere will motivated student enthusiasm and trigger their 'addictive' to learn. Herewith, high standard of passing grade will follow by itself.

(Indonesia eds 'Menyoal Evaluasi Pendidikan Kita' also published at local newspaper, Galamedia, 01 November 2006)

Tuesday, April 10, 2007

LOve

Walking on the air
Living for the moment

High expectations

Doubts

Featherweight spirits

A natural high

Something… What?

And everything

The world stop revolving

Time stands still

Nothing else exists

An enthusiasm day

Love...

but of cold...

It is not more light that is needed in the world.

It is more warmth.

We will not die of darkness, but of cold'.

I learnt through her...

How extraordinary,

Socrates always spoke of having learnt from a woman,

I can also say,

I owe what is best in me to a girl

But I didn't exactly learn it from her

I learnt through her

Tuesday, January 30, 2007

Child Suicide

“Suppose the sky is empty, and life isn’t having purpose anymore, should we kill ourselves? Should we concede our defeat, and determined this life isn’t reasonably to keep on anymore”. This is a philosophy question which submitted by Kirilov on Les Possédés, an inquiring thought from the absurd character on that Dostoievsky masterpiece.

Suicide is an individual phenomenon, weird and elusive, and also offered a different view about death.

Among realities which place suicide as an extraordinary theme, Albert Camus considered suicide was the only philosophical problem which actually serious. Evaluate whether this life proper to go through or not, was the principle answer about philosophy.

Camus philosophies struggle on revealed suicide at the absurd world provide honestly perspective (and also gladden), that human being have to accept their weird condition.

What all said by Camus, and Kirilov too, was a relevant thing at our present life. Suicide stills a concrete reality, apart from its value philosophical debate. Wherein opportunity for suicide escalation quite large, together with increasing of our life pressure.

Global inclination regarding to our complicated future not only give an extremely space for interpretation of Charles Darwin’s “survival of fittest”, but also possibility of suicidal escalation. Both consequences equally worst.

Nowadays, from television or newspaper at our family room, on previous years when they found their freedom once again, we’re easy accessible to a suicidal news (which as popular as the other criminal news). High acceleration of suicidal statistic is a worrying fact. Moreover, if we’re seeing reality that suicidal victim not only an adult, but also children in school age.

Complex Determinant

Traditionally, suicide was comprehensible as an extreme self-defeating behavior, which majority done by an adult with personal reason. Emile Durkheim research which famously explored about suicidal rate in several Europe countries concludes: functionally, suicide was consequence from slack off social integration, although its determinant has variation and individual intensely.

Social background, added with life pressure, visibly make sense as a dominant reason for adult to commit suicide. Nevertheless, when suicide happen to our child in significant amount, we ought to inquired and pay close attention to this symptom. How children, with their innocence and playful contentment, could do this?

An outcome of Kaoru Yamamoto research toward 1.814 children (in USA, Australia, Canada, Egypt, Japan and Philippines) attempted to help us to understand this idiosyncrasy.

Dr Yamamoto, psychologist at University of Colorado in USA, asserted how an embarrassment could bestow a solid blow to children self-esteem and their mental state. The idea when children detected doing something bad, on children mind, will have meaning that they always seem bad. Or, if embarrassed, they thought that they never attain their self-esteem as before again.

Self-image of children shaped continually on a brittle process. As a consequence, children tend to exaggerate something out of proportion. And occasionally, conscience-stricken of children is more fervent than adult.

If we observe child suicide carefully, much case is caused by parent’s lack of ability to fulfill children needs, which finally create a solid blow to a child: an embarrassed sense and inferiority complex among their friends.

These facts, as said by Ann Epstein, psychiatrist at Harvard Medical School in USA, could summarize that the most usual trigger on child suicide is an embarrassing experience.

These explanations not only give a warning that parents doesn’t actually understand about what things which make children feel stress and shattered their self-esteem, decided what happen (and thinking by children) too quick, and often take a hasty decision.

But, these explanations also focus on the family and peer’s effectiveness role, as an early social circle for child. How family and peer running their traditional function to support child development, with produce a warmth and familiarities atmosphere which offer a secure state. These functions could translate as a root of social integration to our society.

Because of that, present families have to carry out more complex responsibilities. They’re demand to supplied a proper life for their children, protected from external jeopardy, and included maintain their sensitivity toward their child mental health.

Social Disintegration?

On the other perspective which still linked, if we believe in what Durkheim done on his research, we have to relate suicidal escalation, whether on child or adult, as an inclination features of weaken social integration to our society.

This hypothesis seems reasonable. On wider scale, we’re metamorphoses at unlimited global village. We’re face with west civilization, which its principal spirits is consumerism, belief in capitalist machine, materialism, and individualisms life style and which related with it: absolute freedom.

Some of that values manifested on our completely apathetic toward anguish and problem of the other. This altruism deficiency afterwards becomes a trigger for social agitation, vertical conflicts, and even suicide. This is a subtle deadly disease on the heart of our society.

However, all sorts of determinant (and also consequence) that mentioned above is only strengthen suicidal phenomenon as a complex psycho-social reality. Because, not only talk about individuals, family and society. But also about education which should have been sharpen society’s emotional state, expand and share values which said by Camus: human beings have to accept a desire which planted inside them wisely. A desire for obtains clarity in the middle of obscurity and excessively uncertainties.

And the important one is an optimal achievement from our government to manage society, and bring prosperity which is evenly distributed through all kinds of improvement programs and sustainable development.

*Ahmad Rafsanjani – www.heilraff.blogspot.com

Also published at Local Newspaper, Pikiran Rakyat - December 01, 2005.

Monday, January 15, 2007

Bertahan Untuk Waras, Dan Lawan!

Ketika reformasi dihembuskan, kebebasan berbicara dan berpendapat memperoleh begitu banyak ruang untuk dimanfaatkan. Hampir setiap hari, kita disuguhkan narasi yang bernada protes, yang menceritakan rakyat miskin yang menjadi pesakitan dimana-mana, disertai perpaduan gagasan yang kerap mengikutinya: penguasa tanpa hati nurani, dan juga bermental demang.

Dengan melimpahnya ruang publik yang dapat kita akses, realitas ketimpangan sosial sudah menjadi rutinitas, bahkan makin bertambah tiap harinya. Berbagai produk jurnalisme tersebut merupakan satu bentuk dari volonte generale, suara orang banyak, yang tidak pernah lelah menyapa ruang publik kita.

Fakta ini bukanlah hal baru. Sebagian dari kita paham benar dalam tahun-tahun belakangan ini, bahwa kemiskinan adalah komoditas dan program pemberantasannya sekedar politik wacana dari penguasa.

Dalam saat-saat tertentu, kita terkadang mengalami apa yang disebut Sissela Bok dalam buku pentingnya, Mayhem (1998), sebagai compassion fatigue. Yakni, keletihan yang membuat kita tidak sanggup lagi merasa terharu ataupun berbelas kasihan.

Dari gejala defisiensi empati inilah yang memaksa Taufiq Ismail meminta kita untuk sekedar bertahan waras ditengah ketimpangan sosial-ekonomi yang aneh ini.

Lalu, apakah sebatas mengetahui, dan memaklumkan realitas ketimpangan ini sudahlah cukup? Jelas tidak cukup. Ada pilihan lain yang lebih mendesak dan konstruktif, dibanding hanya bertahan untuk waras saja.

Relasi Penguasa-Rakyat
Diskursus untuk menelisik ketertindasan rakyat miskin membuat kita terseret dalam perdebatan mengenai relasi penguasa-rakyat. Rakyat yang di-subordinasi secara sistematik. Bahkan ketika mereka berteriak dan melakukan protes-pun, belum menjamin bahwa aspirasi dan harapan mereka akan didengarkan penguasa.

Dalam ingatan sejarah, selama bertahun-tahun kita mengalami depolitisasi. Kita tenggelam dalam demokrasi terpimpin konstitusional semasa rezim orde baru, dengan semua kebijakan bersumber pada satu poros kekuasaan.

Demokrasi yang berlaku saat itu adalah formalistik. Kita, seperti yang dikeluhkan Marx, hanya diberi kesempatan berpartisipasi aktif dalam pemilu saja, dan untuk selanjutnya penguasa yang berhak menentukan semua hal.

Penguasa (dalam bingkai negara) tampak berhasil menguasai basis-basis pikiran (kognitif) kita, melumpuhkan kesadaran kritis dan kemampuan afektif, serta membuat kita powerless dan menerima berbagai rekayasa dari ritus-ritus penindasan yang dilestarikan selama bertahun-tahun. Manipulasi kesadaran inilah yang dimaknai Antonio Gramsci sebagai hegemoni.

Hingga saat ini, ketika reformasi menjanjikan banyak perubahan dan kebebasan, roh demokrasi formalistik masih terlihat. Kita menyadari, hegemoni negara sungguh kental.

Realitasnya, sekali lagi, terlihat dengan jelas. Protes rakyat banyak sekedar rutinitas, responnya pun minimalis. Krisis partisipasi rakyat adalah kelaziman, dari level perencanaan hingga evaluasi program. Atau, kalaupun terjadi interaksi antara penguasa-rakyat, sebagian besar bersifat kosmetik dan superfisial.

Counter Hegemony
Sindrom ketidakmampuan kita, bukan semata rakyat miskin, dalam mempengaruhi kebijakan yang diambil penguasa semestinya mendesak kita untuk memperbaiki relasi penguasa-rakyat. Proses ini, jika tidak muncul dari kesadaran tinggi elite dan penguasa, maka harus muncul dari kita sendiri.

Menurut Gramsci pula, upaya meningkatkan kekuatan diametral rakyat di mata penguasa adalah dengan menciptakan hegemoni tandingan. Yakni, proses penyadaran kognitif dalam lanskap (sosial, budaya, politik dan ekonomi) yang mengalami ketertindasan.

Program-program pengembalian kesadaran rakyat yang tertindas diawali dengan kristalisasi komitmen moral dan keprihatian kita terhadap realitas kesenjangan sosial dan ketidak-adilan.

Secara tekstual, kesadaran sosial (dan komitmen moral) adalah modal awal dari gerakan kolektif rakyat dalam transformasi struktur masyarakat yang lebih adil. Modal ini lalu dipertajam dengan mengkloningkan doktrin pemberdayaan rakyat, memperbaiki kualitas pendidikan, repolitisasi dan pemulihan hak-hak kerakyatan.

Jika kita melihat keadaan sekarang, upaya meningkatkan posisi collective bargaining rakyat vis a vis penguasa memang membutuhkan proses apokaliptik yang panjang dan berliku.

Meskipun demikian, saat sekarang, kita harus memutuskan bagaimana sebaiknya menyikapi realitas ketimpangan ini. Pilihan yang lebih baik untuk ini adalah apa yang ditegaskan oleh penyair Wiji Thukul: hanya ada satu kata, lawan!

Lawan! merupakan interpretasi terpenting dari filsafat acte-nya Marx. Sudah saatnya kita mengurangi habitus retorika, berwacana dan memperdebatkan sesuatu. Karena apa yang dipertaruhkan (masyarakat miskin yang bertambah banyak, sekarat, dan mulai kehilangan kesabaran) sungguh besar.

Juga harus tetap kita percayai bahwa ruh lawan! disini bisa berarti: kita sedang bergerak aktif menuju kondisi dimana kita akan memiliki social awareness yang tinggi, mampu mengorganisasikan diri, merencanakan, dan membangun dalam komunitas lokal serta memiliki kapasitas dalam memecahkan masalah berbasis self-help.