Wednesday, March 05, 2008

ATEISME RUSSELL

-I-
Seorang anak laki-laki bertanya pada pengasuhnya, "Siapa yang merencanakan Tuhan?" Pengasuh itu terkesiap. Dengan nada mencemaskan, Ia berkata, "Apa maksudmu?"

Anak itu menjawab, melalui penampilan imutnya -pipi merah dan rambut keriting itu-, dengan penjelasan yang sungguh ganjil untuk anak se-usianya, "Kue ini buatan ibuku, dan ibuku adalah anak nenek. Pendeta bilang selalu seperti itu. Kalau Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta ini, dan juga menciptakan kita, lalu bagaimana dengan Tuhan sendiri? Siapakah yang merencanakan Tuhan?"

Pengasuh itu tampak terkejut. Atau, Ia memang tidak siap untuk meladeni pembicaraan aneh itu, "Tidakkah kau ingin bermain dengan teman-temanmu?"

Anak itu terdiam beberapa saat. Ia mengunyah kuenya dengan perlahan, dan melihat langit biru terluas yang selalu dilihatnya selama ini.

Bukan hanya pengasuhnya saja yang resah. Anak itu baru berusia 11 tahun. Apa yang terjadi dengan anak ini? Tidak mungkin ia terlalu banyak membaca filsafat Nietzsche. Ia memang penyendiri, dan kerap mengacuhkan ajakan bermain teman-temannya. Dengan pertanyaan aneh itu, ia tidak pernah terjatuh, tidak pula pernah mengalami cedera otak serius.

Selaras dengan berjalannya waktu, anak itu kemudian hari dikenal sebagai salah satu humanis terbesar abad 20. Dia-lah Bertrand Russell, seorang filosof yang kehilangan kepercayaannya pada segala bentuk otoritas sejak muda.

-II-
Cerita itu aku baca ketika berumur 18 tahun. Aku hampir tidak pernah lupa dengan apa yang kupikirkan saat itu. Membaca cerita tersebut -sambil membayangkan: bahwa aku hanyalah se-titik, benar-benar tanpa arti, dalam semesta tak berhingga ini, membuatku, untuk pertamakalinya, mesti gelisah dalam menyikapi hidup.

Apakah aku harus bersyukur, karena menjadi bagian kecil dari keagungan rencana Tuhan. Atau, inilah bagian yang selalu saja sulit, bahkan untuk sekedar diungkapkan.

Haruskah ku akui perasaan takut ini, perasaan benar-benar takut karena ketidak-berartian dan betapa kecilnya aku dalam kehidupan ini. Seperti tidak berpengaruh apa-apa bagi-Nya jika aku harus dihapus dari sejarah kehidupan sekarang, dan juga di kehidupan yang lain nantinya. End of history. Nothing!

Mungkin, tidak seharusnya Russell bertanya seperti itu. Tapi, mau tidak mau, hasrat ingin tahu Russell tersebut malah mendesak berbagai pertanyaan apokaliptik lain. Bukan semata mencari jawaban 'ada' atau 'tiada'-nya Perencana semua ini.
Tapi juga pencarian lain: siapa kita, mengapa kita hidup, apakah keberlangsungan hidup kita memiliki makna, atau hanya rangkaian tanpa tujuan. Lalu, bagaimana dengan kehidupan nanti, jika memang itu harus terjadi. Apakah akan berlanjut dengan keabadian, dan tanpa akhir, atau…

Ah, mencoba memikirkan hal-hal seperti ini lebih jauh, membuatku seperti ingin menangis. Aku harus berhenti.



-III-
Tapi, aku tidak benar-benar tidak memikirkannya. Sungguh menyedihkan, ketika pikiran ini terus menungguku, dengan setia, terutama di saat-saat keheningan tidak bisa terhindarkan.

Dan seperti epidemi, aku bahkan menyebarkan pikiran ini, kegelisahan dan rasa ingin tahu yang mengikutinya, pada orang lain disekitarku. Teman dekat, sesama pecandu sepakbola, beberapa wanita-wanita yang begitu sensitif, hingga mereka yang aku rasa telah melewati banyak hal dalam hidup ini.

Begitulah. Aku mendapatkan beragam reaksi melalui orang-orang yang pernah berbagi mengenai hal ini. Keheningan sesaat yang aku tidak mengerti. Gelengan kepala ragu-ragu. Ungkapan ketidak-mengertian, atas masalah ini dan atas pencarianku ini. Ajakan bersemangat untuk membicarakan topik lain yang lebih penting, lebih sederhana, lebih praktis dan lebih berdampak langsung pada prestasi hidup kita di dunia.

Begitu banyak tatapan aneh dengan dahi yang berkerut itu. Senyum kesejukan dan penjelasan persuasif yang terkadang mencerahkan, meski hanya sesaat. Mata-mata yang memandang kehampaan berhiaskan setetes air.

Kebingungan orang-orang tersesat, dengan ajuan keberatan yang semakin dalam. Hingga pembicaraan eksistensial yang mesti terhenti oleh azan shubuh.
Tapi lebih banyak sekedar komentar pendek bernada sinis, “siapa sih kita, tidak sepantasnya kita menanyakan hal-hal yang pasti ga bisa kita jawab?”
Semuanya bercampur selama bertahun-tahun. Tanpa akhir.

-IV-
Orang bilang, kita lebih dahulu terbiasa hidup, sebelum terbiasa berpikir. Mungkin saja orang-orang itu benar. Aku merasa keseharianku hanyalah rutinitas, bahkan ketika hidupku menginjak seperempat abad ini.

Aku tidak pernah benar-benar terbiasa berpikir, memusatkan perhatian, mengarahkan kesadaranku, atau berusaha membuat tiap gagasan dan tiap gambar dari hidup ini menjadi suatu orkestra penuh makna.

Akibatnya, pencarianku sekedar terbentur pada dua gagasan, yang terlalu sedikit tapi selalu saja aku jadikan sebagai titik Archimedes; tempat berpijak seadanya ditengah kabut ketidakpastian.

Gagasan pertama aku pungut dari seorang relawan kemanusiaan; dari jenis teman yang tepat untuk berbagi makna hidup. Walau, sebenarnya aku yakin, apa yang dia katakan, tidak lebih dari perputaran energi pengetahuan yang tak pernah berakhir. Dia meng-kloning-kan gagasan ini dari tempat lain.

"Kau pernah dengar Eugene O'Neil?"

Aku belum pernah mendengar nama itu. Tapi, aku juga tidak suka terlihat bodoh di depan orang lain.

"Apakah dia seorang pemikir modern yang rendah hati? Dari namanya, mungkin dia pemikir dari Skotlandia, bukan?”

"Wow, bukan, bukan. Dia bukan seorang jenius yang malas menjual pikirannya. Dia tuh seorang penulis tragedi sejarah terpenting"

Meski baru setahun terakhir mengenalnya. Namun, dengan kacamata tebal dan kantung mata yang tegas itu, aku memastikan bahwa dia sejenis homo sapiens pemakan buku.

"Tidak dari novelnya, ataupun dari roman satirenya. Melainkan dari drama yang ditulisnya. The Iceman Cometh.

Aku pernah melihat Drama O'Neil itu di sebuah pementasan independen di Jakarta. Orang-orang bilang, dan juga dari resensi para pakar, The Iceman Cometh memberi sensasi-pasca-pementasan yang hampir sama dengan Macbeth atau King Lear"

Aku menyerah. Tidak pernah terpikir olehku untuk menonton satupun dari ketiga drama yang nampaknya terkenal itu.

"Aku belum sempat melihat ketiganya. Emang sensasi seperti apa yang kau rasakan? Juga yang orang lain rasakan?"

"Perasaan mendalam tentang pentingnya hakikat manusia. Tentang menjadi manusia"

"Wah, sayang aku belum pernah menontonnya. Jadi, aku benar-benar tidak bisa membayangkan sensasinya"

Dia membuka kacamatanya. Seperti biasa, dia terlihat lebih muda jika melepas kacamata jelek itu.

"Ketika drama selesai, jika kita sungguh-sungguh menghayati, biasanya akan hadir kesadaran jernih akan kekosongan. Kesepian di dunia yang luas ini. Kita menjadi haus untuk mencari kejelasan hakikat kehidupan kita"

Aku hanya terdiam. Cerdas sekali drama itu. Dan memang, seperti itulah pekerja seni tercipta. Untuk mengajak kita melihat hal-hal yang seringkali kita abaikan. Membiarkan kita, dengan kecerdikan mereka yang mencurigakan, untuk melihat realitas-realitas yang tidak terpikirkan.

"Jadi, begitulah manusia. Seringkali kita tidak tahu apa-apa. Kemudian kita jadi berhasrat untuk menjelaskan semuanya. Kita berusaha memahami dunia dengan menyederhanakannya dalam sifat manusia. Kita menandai dunia dengan karakteristik diri kita”

"Maksudmu, jika itu menyangkut apa yang Tuhan semesta alam Inginkan, kita tidak akan bisa menemukan jawabannya"

Dia tidak langsung menjawab. Malah membersihkan kacamatanya dengan kain beludru dari kantong jaket hitamnya.

"Sepertinya begitu. Semua pertanyaan yang kau ajukan, rasa ingin tahu dan kegelisahan itu cuma pemikiran antropomorfis. Sehingga kita, sampai kapanpun, tidak akan bisa memahami 'pikiran' di atas sana"

Dia melanjutkan. Berat dan dalam, hampir putus asa.

"Kita boleh menangis sejadi-jadinya atas ketidakberdayaan ini. Tapi, memang inilah yang harus kita terima"

Aku tidak tahu mesti berkata apa

"Yeah, tapi menurutku penting juga sekali-kali kita memikirkan hal ini. Biar kita menghayati betapa kecil-nya kita"

-V-
Gagasan sederhana lain atas pencarianku ini hanyalah satu istilah yang terdengar deket, dan juga keren bagi sebagian orang.

Istilah ini sepertinya menjadi akhir dari setiap pembicaraan, karena tampak masuk akal dan manusiawi; 'kegelisahan eksistensial'. Yup, itulah istilah yang aku pinjam dari ruang-ruang kuliah filsafat di tahun-tahun pertamaku kuliah.

Kata orang-orang jenius di luar sana, yang menghabiskan hidup mereka untuk mendiskusikan banyak gagasan mencerahkan, keadaan ini cuma kegelisahan, sekedar ketakutanku akan ketiadaan. Apa yang aku alami, rasakan dan pikirkan ini sangat manusiawi.

Terkadang kita berusaha untuk mengatasi keanehan ini, bahwa kita yang pasif ini adalah produk ciptaan, dengan mempertanyakan segala sesuatu. Inilah yang dinamakan Erich Fromm, seorang psikolog terkenal dari Jerman, sebagai perasaan akan transendensi.

Terkadang kita melangkah lebih jauh. Bukan sekedar bertanya, tapi juga menggugat.

Terkadang kita bukan sekedar gelisah akan ketiadaan karena kematian, tapi juga karena kita kesulitan memikirkan kemungkinan akhir dari hidup setelah kematian. Karena kita tahu, tidak ada yang pernah tahu. Meski, kita telah dikabarkan akan hidup selamanya di kehidupan itu nanti.


No comments: