Tuesday, January 30, 2007

Child Suicide

“Suppose the sky is empty, and life isn’t having purpose anymore, should we kill ourselves? Should we concede our defeat, and determined this life isn’t reasonably to keep on anymore”. This is a philosophy question which submitted by Kirilov on Les Possédés, an inquiring thought from the absurd character on that Dostoievsky masterpiece.

Suicide is an individual phenomenon, weird and elusive, and also offered a different view about death.

Among realities which place suicide as an extraordinary theme, Albert Camus considered suicide was the only philosophical problem which actually serious. Evaluate whether this life proper to go through or not, was the principle answer about philosophy.

Camus philosophies struggle on revealed suicide at the absurd world provide honestly perspective (and also gladden), that human being have to accept their weird condition.

What all said by Camus, and Kirilov too, was a relevant thing at our present life. Suicide stills a concrete reality, apart from its value philosophical debate. Wherein opportunity for suicide escalation quite large, together with increasing of our life pressure.

Global inclination regarding to our complicated future not only give an extremely space for interpretation of Charles Darwin’s “survival of fittest”, but also possibility of suicidal escalation. Both consequences equally worst.

Nowadays, from television or newspaper at our family room, on previous years when they found their freedom once again, we’re easy accessible to a suicidal news (which as popular as the other criminal news). High acceleration of suicidal statistic is a worrying fact. Moreover, if we’re seeing reality that suicidal victim not only an adult, but also children in school age.

Complex Determinant

Traditionally, suicide was comprehensible as an extreme self-defeating behavior, which majority done by an adult with personal reason. Emile Durkheim research which famously explored about suicidal rate in several Europe countries concludes: functionally, suicide was consequence from slack off social integration, although its determinant has variation and individual intensely.

Social background, added with life pressure, visibly make sense as a dominant reason for adult to commit suicide. Nevertheless, when suicide happen to our child in significant amount, we ought to inquired and pay close attention to this symptom. How children, with their innocence and playful contentment, could do this?

An outcome of Kaoru Yamamoto research toward 1.814 children (in USA, Australia, Canada, Egypt, Japan and Philippines) attempted to help us to understand this idiosyncrasy.

Dr Yamamoto, psychologist at University of Colorado in USA, asserted how an embarrassment could bestow a solid blow to children self-esteem and their mental state. The idea when children detected doing something bad, on children mind, will have meaning that they always seem bad. Or, if embarrassed, they thought that they never attain their self-esteem as before again.

Self-image of children shaped continually on a brittle process. As a consequence, children tend to exaggerate something out of proportion. And occasionally, conscience-stricken of children is more fervent than adult.

If we observe child suicide carefully, much case is caused by parent’s lack of ability to fulfill children needs, which finally create a solid blow to a child: an embarrassed sense and inferiority complex among their friends.

These facts, as said by Ann Epstein, psychiatrist at Harvard Medical School in USA, could summarize that the most usual trigger on child suicide is an embarrassing experience.

These explanations not only give a warning that parents doesn’t actually understand about what things which make children feel stress and shattered their self-esteem, decided what happen (and thinking by children) too quick, and often take a hasty decision.

But, these explanations also focus on the family and peer’s effectiveness role, as an early social circle for child. How family and peer running their traditional function to support child development, with produce a warmth and familiarities atmosphere which offer a secure state. These functions could translate as a root of social integration to our society.

Because of that, present families have to carry out more complex responsibilities. They’re demand to supplied a proper life for their children, protected from external jeopardy, and included maintain their sensitivity toward their child mental health.

Social Disintegration?

On the other perspective which still linked, if we believe in what Durkheim done on his research, we have to relate suicidal escalation, whether on child or adult, as an inclination features of weaken social integration to our society.

This hypothesis seems reasonable. On wider scale, we’re metamorphoses at unlimited global village. We’re face with west civilization, which its principal spirits is consumerism, belief in capitalist machine, materialism, and individualisms life style and which related with it: absolute freedom.

Some of that values manifested on our completely apathetic toward anguish and problem of the other. This altruism deficiency afterwards becomes a trigger for social agitation, vertical conflicts, and even suicide. This is a subtle deadly disease on the heart of our society.

However, all sorts of determinant (and also consequence) that mentioned above is only strengthen suicidal phenomenon as a complex psycho-social reality. Because, not only talk about individuals, family and society. But also about education which should have been sharpen society’s emotional state, expand and share values which said by Camus: human beings have to accept a desire which planted inside them wisely. A desire for obtains clarity in the middle of obscurity and excessively uncertainties.

And the important one is an optimal achievement from our government to manage society, and bring prosperity which is evenly distributed through all kinds of improvement programs and sustainable development.

*Ahmad Rafsanjani – www.heilraff.blogspot.com

Also published at Local Newspaper, Pikiran Rakyat - December 01, 2005.

Monday, January 15, 2007

Bertahan Untuk Waras, Dan Lawan!

Ketika reformasi dihembuskan, kebebasan berbicara dan berpendapat memperoleh begitu banyak ruang untuk dimanfaatkan. Hampir setiap hari, kita disuguhkan narasi yang bernada protes, yang menceritakan rakyat miskin yang menjadi pesakitan dimana-mana, disertai perpaduan gagasan yang kerap mengikutinya: penguasa tanpa hati nurani, dan juga bermental demang.

Dengan melimpahnya ruang publik yang dapat kita akses, realitas ketimpangan sosial sudah menjadi rutinitas, bahkan makin bertambah tiap harinya. Berbagai produk jurnalisme tersebut merupakan satu bentuk dari volonte generale, suara orang banyak, yang tidak pernah lelah menyapa ruang publik kita.

Fakta ini bukanlah hal baru. Sebagian dari kita paham benar dalam tahun-tahun belakangan ini, bahwa kemiskinan adalah komoditas dan program pemberantasannya sekedar politik wacana dari penguasa.

Dalam saat-saat tertentu, kita terkadang mengalami apa yang disebut Sissela Bok dalam buku pentingnya, Mayhem (1998), sebagai compassion fatigue. Yakni, keletihan yang membuat kita tidak sanggup lagi merasa terharu ataupun berbelas kasihan.

Dari gejala defisiensi empati inilah yang memaksa Taufiq Ismail meminta kita untuk sekedar bertahan waras ditengah ketimpangan sosial-ekonomi yang aneh ini.

Lalu, apakah sebatas mengetahui, dan memaklumkan realitas ketimpangan ini sudahlah cukup? Jelas tidak cukup. Ada pilihan lain yang lebih mendesak dan konstruktif, dibanding hanya bertahan untuk waras saja.

Relasi Penguasa-Rakyat
Diskursus untuk menelisik ketertindasan rakyat miskin membuat kita terseret dalam perdebatan mengenai relasi penguasa-rakyat. Rakyat yang di-subordinasi secara sistematik. Bahkan ketika mereka berteriak dan melakukan protes-pun, belum menjamin bahwa aspirasi dan harapan mereka akan didengarkan penguasa.

Dalam ingatan sejarah, selama bertahun-tahun kita mengalami depolitisasi. Kita tenggelam dalam demokrasi terpimpin konstitusional semasa rezim orde baru, dengan semua kebijakan bersumber pada satu poros kekuasaan.

Demokrasi yang berlaku saat itu adalah formalistik. Kita, seperti yang dikeluhkan Marx, hanya diberi kesempatan berpartisipasi aktif dalam pemilu saja, dan untuk selanjutnya penguasa yang berhak menentukan semua hal.

Penguasa (dalam bingkai negara) tampak berhasil menguasai basis-basis pikiran (kognitif) kita, melumpuhkan kesadaran kritis dan kemampuan afektif, serta membuat kita powerless dan menerima berbagai rekayasa dari ritus-ritus penindasan yang dilestarikan selama bertahun-tahun. Manipulasi kesadaran inilah yang dimaknai Antonio Gramsci sebagai hegemoni.

Hingga saat ini, ketika reformasi menjanjikan banyak perubahan dan kebebasan, roh demokrasi formalistik masih terlihat. Kita menyadari, hegemoni negara sungguh kental.

Realitasnya, sekali lagi, terlihat dengan jelas. Protes rakyat banyak sekedar rutinitas, responnya pun minimalis. Krisis partisipasi rakyat adalah kelaziman, dari level perencanaan hingga evaluasi program. Atau, kalaupun terjadi interaksi antara penguasa-rakyat, sebagian besar bersifat kosmetik dan superfisial.

Counter Hegemony
Sindrom ketidakmampuan kita, bukan semata rakyat miskin, dalam mempengaruhi kebijakan yang diambil penguasa semestinya mendesak kita untuk memperbaiki relasi penguasa-rakyat. Proses ini, jika tidak muncul dari kesadaran tinggi elite dan penguasa, maka harus muncul dari kita sendiri.

Menurut Gramsci pula, upaya meningkatkan kekuatan diametral rakyat di mata penguasa adalah dengan menciptakan hegemoni tandingan. Yakni, proses penyadaran kognitif dalam lanskap (sosial, budaya, politik dan ekonomi) yang mengalami ketertindasan.

Program-program pengembalian kesadaran rakyat yang tertindas diawali dengan kristalisasi komitmen moral dan keprihatian kita terhadap realitas kesenjangan sosial dan ketidak-adilan.

Secara tekstual, kesadaran sosial (dan komitmen moral) adalah modal awal dari gerakan kolektif rakyat dalam transformasi struktur masyarakat yang lebih adil. Modal ini lalu dipertajam dengan mengkloningkan doktrin pemberdayaan rakyat, memperbaiki kualitas pendidikan, repolitisasi dan pemulihan hak-hak kerakyatan.

Jika kita melihat keadaan sekarang, upaya meningkatkan posisi collective bargaining rakyat vis a vis penguasa memang membutuhkan proses apokaliptik yang panjang dan berliku.

Meskipun demikian, saat sekarang, kita harus memutuskan bagaimana sebaiknya menyikapi realitas ketimpangan ini. Pilihan yang lebih baik untuk ini adalah apa yang ditegaskan oleh penyair Wiji Thukul: hanya ada satu kata, lawan!

Lawan! merupakan interpretasi terpenting dari filsafat acte-nya Marx. Sudah saatnya kita mengurangi habitus retorika, berwacana dan memperdebatkan sesuatu. Karena apa yang dipertaruhkan (masyarakat miskin yang bertambah banyak, sekarat, dan mulai kehilangan kesabaran) sungguh besar.

Juga harus tetap kita percayai bahwa ruh lawan! disini bisa berarti: kita sedang bergerak aktif menuju kondisi dimana kita akan memiliki social awareness yang tinggi, mampu mengorganisasikan diri, merencanakan, dan membangun dalam komunitas lokal serta memiliki kapasitas dalam memecahkan masalah berbasis self-help.

Tuesday, December 19, 2006

Cultural Transformation

“Whether our cultural system (value structure, theological beliefs, families and education system) have an adequate force to protect us, to defense ourselves in the middle of massive acceleration from global civilization?”

- - - - - - - - - -

On certain matters, we have to admitted, that we ought to appreciate what mass media have done. With their persuasive capacity which reaches every home, mass media have a role as a cultural guard, a democratization watchdog, an arouser of social awareness, and even as a moral officer.

The disgraceful demoralization affair (which discussed until now) was a sex scandal of our national legislative assembly member. With media provocation, this sex scandal became widespread issue, and able to clarify various symptoms which are distinctive feature of our present Ages.

Apart from this scandal politicization (it’s seems that we already have a long-standing question about moral integrity of our public official), there’s a lot of message which emerge to the public. This scandal is only a surface of free life style as ‘the unseen ice-floe phenomenon’. Free life style, and free sex as its principle substance, already involved many people: student, also university student, young executives, former activist of religious organization, public official and included society figures.

Sex scandal also exhibit in what Akbar S. Ahmed convinced about. Professor Akbar (as a Moslem’s professor on International Studies at American University-Washington DC) believed that present Ages was a ‘post-honor Ages’. The Ages wherein honor (or dignities) metamorphoses to the unessential conception. Human honor failed into nothingness.

However, member of DPR-RI’s sex scandal is only a small part of zeitgeist (a prime marker), from freedom revolution which occurs in our society.

We’re all knows, since social repression started decreased, liberalization doctrines also started to find a relevant form at our life system and public space. Free life style, ATM condoms, free sex, an absolute of information freedom with vulgar news and magazines, or subtle youth prostitution is manifestation of tangible permissive philosophy.

Society Anomaly

On larger frame, it’s more complicated for us to decide our attitude. Our eastern identity, morality system, and theological values have to face rapid changes.

When cultural observer and intellectuals still debates about liberalization impact which damage and substitute pervasively to our nation identity’s system, apparently, some of our society consider these realities as usual inclination. It’s a part of modernization.

Thought tradition which emphasizes truth as a relative and subjective fact is started expands on our society. This tradition exalts a hypothesis that morality isn’t term of right or wrong, but more based on personal desire and subjectively contentment.

Is it a result of ‘education without character’, as one representation of the seven social sin which introduced by Mohandas Gandhi? Or, is it a multiplier effect of clash civilization from Samuel Huntington? Is it a kind of global tendencies that parallel with Hegel discourse about history’s meta-narrations, which brought us to a wider rationality and freedom?

With these preconditions, it’s possibly too premature to conclude that already happen a large-scale substituted at our cultural system. Too early to judge about our beliefs system shifted, which also influenced on how we comprehend-fully, think about, feels and to do something.

We seemingly just entered an anomie stage. The systematic stages which introduces by Emile Durkheim, and talked about an erasure process to indigenous traditions and deregulation at some society. The stage where we’re difficult to differentiate whether a certain social behavior is deviant behavior, or it’s an advanced eugenic activity (and also indicates our advancement civilization).

This anomie stage and inter-civilization contact are significant initial symptom for cultural transformation process. Wherein informational media, as civilization agent, join in clarify of crystallization from our cultural idea, activity and artifact’s changes. On anthropological term that interrelated, we known about baseline acculturation term. This term has meaning that entering process of external values was an initial moment for cultural diffusion.

An Existential Discourse

Finally, we’re demands for prepare ourselves to confront a freedom revolution at larger-scale. And preferable we’re not necessary to use up our energy for debate on freedom legality and its trickle down effect to our society. Because, according to Foucault, each society periods will have rightness regime of themselves.

For that reasons, significant knot which surely debate is our social-cultural force itself. Whether our cultural system (value structure, theological beliefs, families and education system) have an adequate force to protect us, to defense ourselves in the middle of massive acceleration from global civilization?

An apocalypse challenges for us is how an education system capable to maintain our value structure. Also, how parents (and family) run their traditional role effectively to re-define an environment which potentially produced the valueless world-design.

This discourse which questioning our cultural existence isn’t provocation. It’s also not a stimulus toward binary logic (thinking based on black or white, right or wrong), especially discourse with esoteric messages.

This existential discourse is only a minor part of wider dialectics effort. An effort to stimulate antithesis toward a dim thought of ‘positivistic’ philosophy, which convinced that the permanent moral-theology values and eastern identity was an utopia state. It’s also claims certainty about narcissistic changes, sooner or later, on our indigenous value and cultural system.

Thursday, December 14, 2006

Kuis & Orang Miskin

Seperti yang kerap kita lihat, di beberapa media elektronik, beragam kuis hadir sebagai salah satu wahana hiburan. Apalagi, menjelang momen-momen khusus tertentu yang memerlukan banyak kemewahan sebagai tanda bahwa media elektronik memang ‘memanjakan’ kita semua.

Sebagian besar kuis bertujuan untuk merangsang senyum kita, ketika kita melihat orang-orang mendapatkan berbagai hadiah. Dari tontonan ini pula, perasaan bahagia, keceriaan dan kejutan dapat menghibur kita. Mengajak kita bersenang-senang sejenak, melepaskan penat dan melupakan tekanan dalam kehidupan. Meski, kita bukanlah pemenangnya.

Buat sebagian dari kita, sepertinya tidak ada yang salah dengan meluasnya berbagai kuis tersebut. Namun, ada satu hal yang mengkhawatirkan saya, yang berkaitan dengan relasi antara kuis dan orang miskin.

Untuk kita, menonton kuis yang berhadiah jutaan, bahkan miliaran, tentu menjadi pengalaman menyenangkan, sekaligus mendebarkan.

Tapi, sensasi itu mungkin akan terasa berbeda pada orang miskin. Pada para tukang becak, nelayan, atau pedagang kaki lima, yang mesti menghabiskan seharian hidupnya mengumpulkan uang, yang sekedar cukup untuk bertahan hidup.

Sedangkan, dari tontonan kuis itu, seseorang bukan hanya dengan mudah mendapatkan uang (pada salah satu kuis, anda cukup berpenampilan aneh, pemandu kuispun memilih anda, dan dipastikan anda akan membawa pulang hadiah), tapi juga seringkali sekedar bermodalkan keberuntungan.

Orang miskin lalu mulai membandingkan, antara dirinya yang bekerja keras namun selalu dalam keprihatinan, dengan orang-orang (dalam kuis di televisi) yang dengan mudah mendapatkan uang. Makna kerja keras seperti disepelekan.

Yang lebih menyedihkan, akses-akses untuk kuis seringkali tidak mungkin dijangkau oleh orang miskin, orang yang lebih membutuhkan hadiah-hadiah tersebut.

Apakah kita tidak menangkap bentuk ketidak-adilan disini? Orang miskin di Indonesia bukan sekedar ‘warga kelas dua’, yang mendapatkan diskriminasi dalam berbagai hal. Tapi juga mesti gigit jari, mesti sabar menonton hiburan-hiburan di televisi yang berpeluang menyakiti perasaan mereka.

Kuis mungkin memang hanya hiburan untuk kita. Tetapi, sebaiknya, konsep-konsep kuis juga hendaknya memperhatikan dampak psikologis bagi orang miskin. Terutama, untuk kuis-kuis yang tidak penting, yang hanya mengumbar hadiah miliaran rupiah dengan mudah.

Dalam bingkai yang lebih besar, bangsa kita sepertinya kurang memerlukan jurnalistik hedonis, jurnalistik remeh temeh (melalui berbagai infotainment yang menggempur rumah kita setiap hari), dan juga berbagai produk jurnalisme bernuansa kekerasan sebagai menu utama dalam tayangan stasiun televisi kita.

Untuk beberapa kasus, kita bahkan membenci media yang dapat dengan dingin bersifat netral terhadap posisi-posisi moral dan pesan-pesan spiritual. Media yang menayangkan gambar kemewahan selebritas virtual dalam satu detik (yang serba berlebih dan menghambur-hamburkan), dan pada detik berikutnya orang-orang di daerah pedalaman yang kelaparan dan nyaris sekarat.

Terakhir, untuk stasiun televisi, ataupun perusahaan-perusahaan yang menjadi sumber dana bagi penyelenggaraan suatu kuis, bukankah dana yang begitu besar itu sebaiknya diwujudkan dalam bentuk corporate philanthropist.

Membangun sekolah yang hendak runtuh, mengembangkan rumah sakit di daerah terpencil, memberi beasiswa bagi orang miskin, ataupun membantu pemerintah dalam mengatasi kelaparan dan gizi buruk, tentu lebih dibutuhkan oleh bangsa ini.

Pelajaran Dari Bangladesh


Komite Nobel Norwegia, seperti tahun-tahun sebelumnya, memberikan kejutan yang mengharukan. Kejutan berupa pemberian Hadiah Nobel Perdamaian 2006 untuk Muhammad Yunus dan Bank Grameen, yang sebelumnya sama sekali tidak disebut-sebut media massa dalam peng-anugerahan hadiah prestisius tersebut.

Perjuangan Muhammad Yunus sejak tahun 1974 untuk membangun pilar terpenting perdamaian, yakni pemberantasan kemiskinan, memang layak untuk diapresiasi.

Profesor Yunus berupaya mereduksi kemiskinan dengan memberikan akses modal bagi kaum miskin, tanpa jaminan dan collateral (syarat) yang berbelit-belit. Akses modal ini dikelolanya dalam lembaga kredit, yang kemudian ditransformasikan menjadi bank formal, bernama Bank Grameen.

Sejak berdiri tahun 1983, Bank Grameen, atau Bank Desa dalam bahasa Bengali, telah memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa. Bank itu kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS, setiap bulan, kepada sekitar 6 juta lebih kaum miskin yang menjadi nasabahnya.

Kemenangan Profesor Yunus membuat isu kemiskinan, kredit mikro dan pemberdayaan kaum miskin menjadi arus utama perhatian masyarakat. (Entah kebetulan, atau memang latah mengikuti trend, iklan pemerintah mengenai program bantuan modal bagi masyarakat miskin dan usaha mikro tampak sering kita lihat di media massa belakangan ini).

Kemiskinan Di Indonesia

Masalah kemiskinan ini, seperti biasa, harus kita kaitkan dengan negeri kita. Dengan sekitar 40 juta masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, Indonesia merupakan negeri dengan masyarakat miskin terbesar ketiga di Asia.

Negeri yang sepertinya selalu mempunyai program pemberantasan kemiskinan.

Mulai dari kredit Bimbingan Massal (Bimas) semasa orde baru, program kredit mikro dari KUD, paket Kredit Usaha Kecil (KUK) sebesar 20% yang wajib disalurkan oleh bank di awal tahun 1990-an, pemberdayaan UMKM, program BLT untuk meningkatkan daya beli masyarakat miskin, proyek Perkasa (pengembangan usaha mikro khusus untuk perempuan), hingga kebijakan penguatan Lembaga Kredit Mikro (LKM).

Namun, dari realitas yang kita lihat, masyarakat miskin seolah tetap berada dalam lingkaran kemiskinannya.

Di negeri ini, usaha mikro bukan hanya sulit mengakses kredit dari perbankan (karena alasan tidak bankable), tapi juga terkadang kurang mendapatkan perlindungan yang memadai dari pemerintah.

Aliran kredit dari bank malah mengalir ke bisnis milik pengusaha besar, yang rasionya hanya 0,01% dari sekitar 44,69 juta unit usaha yang ada di Indonesia. Pasar-pasar tradisional mulai tergusur, digantikan mall-mall dan hypermarket.

Koperasi yang semestinya menjadi Multiple Purpose Vehicle bagi masyarakat, menurut Sri-Edi Swasono dalam sebuah Seminar Nasional tentang masa depan koperasi yang pernah penulis ikuti, malah disisihkan dan dihakimi sebagai anti-tesis yang tidak memadai untuk mengatasi persoalan kemiskinan.

Noble Principle

Kesenjangan ini tentu mengindikasikan adanya sesuatu yang salah, entah itu pada sistem ataupun pendekatan yang digunakan, dalam pemberantasan kemiskinan di Indonesia. Melalui kesenjangan inilah kita mesti belajar dari Muhammad Yunus dan Bank Grameen-nya.

(Simak komentar Muhammad Yunus: ‘Kami, profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Ketika banyak orang yang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan’).

Komentar ini adalah semacam gugatan terhadap pakar ekonomi yang berada dalam menara gading, yang terlalu memuja competitive economics, dan cenderung meremehkan cooperative economics. Yang juga ikut serta melestarikan sistem sosial-ekonomi yang tidak adil bagi masyarakat miskin. Sistem yang terkadang memandang sebelah mata kontribusi usaha mikro (dan koperasi) dalam pertumbuhan ekonomi.

Dari Bangladesh, kita belajar bahwa usaha mikro (dan koperasi) bukan semata berperan dalam pemberantasan kemiskinan, tapi juga dapat menjadi countervailing power (kekuatan penyeimbang) dalam era globalisasi ini. Kekuatan yang menyebarkan noble principle: menolong diri sendiri untuk mandiri secara bersama-sama (mutual self-help).

Dari Bangladesh juga, kita belajar bagaimana Profesor Yunus berbuat sesuatu yang nyata untuk mewujudkan hasrat pribadinya dalam menghapus kemiskinan di Bangladesh pada tahun 2030 (Time, 13/10/06).

Lalu, bagaimana dengan kita?