Wednesday, February 27, 2008

PENGARUH EKSISTENSIALISME

“Man is nothing else but his plan; he exists only to the extent that he fulfills himself; he is therefore nothing else than the ensemble of his acts, nothing else than his life”

(Jean-Paul Sartre, Existentialism & Human Emotions, 1946:32)

Sebelum psikologi modern membuka dirinya pada pemikiran (school of thought) berbasis emosi dan spiritual yang transenden, psikologi terlebih dahulu dipengaruhi oleh ide-ide humanistik.

Psikologi humanistik berpusat pada diri, holistik, terobsesi pada aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri mereka sendiri dan masyarakat.

Psikologi humanistik begitu dekat, dan mungkin saling berhubungan secara elusif dengan penyembahan diri dan eksistensialisme.

Perpaduan antara akar-akar eksistensialisme, teori mengenai diri, kehampaan eksistensial (terutama pada masyarakat Barat) dan kebutuhan untuk mengisinya, serta ekspansi komersialisasi, telah membuat psikologi-diri menjadi agama zaman baru, religion of new age.

Sebuah psikologi-diri yang hanya menegaskan apa yang diyakini para pemikir humanistik mengenai ‘manusia adalah ukuran bagi segalanya’.

Sastra Eksistensial

Meta-narasi eksistensialis bukan hanya mempengaruhi psikologi, tapi juga sastra, politik, teologi, hingga model pendidikan zaman sekarang.

Dalam khazanah sastra sendiri, beberapa penulis (semisal Franz Kafka, Samuel Beckett, Albert Camus ataupun Fyodor Dostoevsky) dikenal luas melalui tulisan-tulisan yang kental dengan kualitas eksistensialis.

Selain mengajukan pertanyan-pertanyaan bersifat pencarian diri, para penulis eksistensialis itu juga menyatakan visi keprihatinan mengenai masalah-masalah ilusif yang mesti dihadapi individu dalam karya mereka.

Beberapa eksistensialis sayap kanan (Soren Kierkegaard, Gabriel Marcel, Martin Buber, hingga Nicolai Berdyaev) juga memberikan trade-mark khas dalam penulisan sastra; yakni menulis sesuai dengan hati dan tujuan, tetapi tanpa metodologi.

Motif utama mereka terkait dengan penciptaan ruang yang lebih luas bagi emosi, sekaligus sebagai reaksi balik terhadap rasionalisme kaku Rene Descartes dan idealisme klise Hegelian.

Motif tersebut membentuk keyakinan ideologis akan filsafat aktual ini dalam ‘pembolehan prinsip yang berbeda satu dengan yang lain’. Prinsip berbeda dan kepercayaan pada diri ini telah menjadi model yang sangat berpengaruh pada pertengahan akhir abad 20.

Filsafat Diri

Eksistensialisme sendiri adalah filsafat pemberontakan; yang dalam cara-cara tertentu dapat dilihat sebagai pemberontakan romantisme melawan ide Pencerahan Eropa yang terlalu menekankan sistem dan rasionalitas.

Kata eksis, secara harfiah berarti ‘berdiri tegak melawan’. Dan para filsuf eksistensialis telah menekankan pentingnya manusia ‘berdiri tegak’ melawan dunia, masyarakat dan cara berpikir yang membatasi kebebasannya.

Eksistensialisme berarti filsafat mengenai saya, dan bagaimana saya hidup.

Dengan demikian, eksistensialisme adalah filsafat subyektif mengenai diri. Hal ini terlihat pada ide-ide dari tiga eksistensialis terbesar Eropa: Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger (1889-1976) dan Jean-Paul Sartre (1905-1980).

Eksistensialisme Kierkegaard tercapai karena menemukan diri di hadapan Tuhan. Bagi Heidegger, filsuf Jerman dengan karya Being & Time yang sangat berpengaruh, diri terkait dengan ‘pengada otentik’, atau kecerdasan identitas.

Sementara bagi Sartre, diri serupa dengan konsep Descartes, tetapi dengan meniadakan Tuhan. Diri bagi Sartre adalah pengakuan atas Tuhan. Karena, dalam menciptakan manusia yang kita inginkan, tak ada satupun dari tindakan-tindakan kita yang tidak sekaligus menciptakan gambaran tentang manusia sebagaimana ia seharusnya.

Dalil diataslah, menurut Sartre lagi, yang menggambarkan diri kita sebagai ‘Tuhan kecil’ yang berada atau menyatu dalam diri kita, sekaligus yang ‘memiliki kebebasan kita’ seperti sebuah kebajikan metafisik (Being & Nothingness, 1943:42)***

Sunday, February 24, 2008

LITERASI ERA DIGITAL

“Thomas Jefferson telah menggagas konsep perpustakaan dan hak meminjam buku secara cuma-cuma. Namun, penggagas besar ini tidak pernah membayangkan bahwa kini 20 juta orang dapat mengakses sebuah perpustakaan digital secara elektronik dan mengambil isinya tanpa biaya sama sekali”
(Nicholas Negroponte, dalam buku Being Digital; 1995)

Selama ratusan ribu tahun, nenek moyang kita berkeliaran dibumi sebagai pemburu. Sekitar 12.000 tahun lalu, mereka mulai bercocok tanam dan beternak. Antara 500 hingga 200 tahun lalu, mereka menemukan percetakan, mesin uap, ilmu pengetahuan dan sains modern. Tidak kurang dari 300 tahun yang pendek, berbagai penemuan inventif telah merubah banyak hal dalam kehidupan manusia.

Kini, setelah penemuan mikro-prosesor komputer dan kalkulator saku pada 1971, Homo sapiens sapiens (penghuni bumi era posmodern) menjalani kehidupan dengan kecepatan informasi, komunikasi instan dan perubahan berkelanjutan sebagai kecenderungan utama.

Penemuan Claude Shannon, ilmuwan Bell Laboratories, mengenai digitalisasi informasi berbentuk digit biner (bits) adalah derivasi perkembangan luar biasa dari tekhnologi penyimpanan dan penyajian informasi.

Melalui digitalisasi, jenis informasi apapun dapat dipahami kodenya dalam bentuk digit biner, dan kemudian dapat dikomunikasikan kembali sebagai rangkaian impuls listrik. Kabel serat optik tunggal, sebagai media transmisi informasi, setidaknya mampu mengirim satu milyar bit per detik.

Dengan kapasitas ini, menurut Bill Gates dalam The Road Ahead (1995), serat optik sehelai rambut dapat mengirim seluruh edisi Wall Street Journal yang pernah diterbitkan dalam waktu kurang dari satu detik. Atau di lanskap pendidikan tinggi misalnya, internet dapat menghubungkan 100 universitas lebih dengan kecepatan 600 juta bit per detik, yang berarti mampu mentransmisikan sekitar 30 jilid ensiklopedi dalam satu detik.

Akselarasi luar biasa ini membentuk suatu pengaruh mutual (forceful interplay) antara iptek dan masyarakat. Seperti visi masa depan Karl Marx dalam Das Kapital (1867), bahwa masyarakat memang pencipta tekhnologi, tapi kecenderungan tekhnologi juga berkemampuan mengarahkan model kehidupan dari masyarakat tersebut.

Dan revolusi digital, seperti keyakinan John Naisbitt di High Tech High Touch (1999), telah dan akan merubah struktur bisnis, pendidikan, pekerjaan, interaksi antar-manusia, tekhnik penyembuhan, hiburan, dan mungkin esensi teologis kita.

          Apartheid Tekhnologi
Dengan kemajuan tekhnologi dan energi intelektual yang mencerahkan, generasi saat ini dipercaya memiliki pilihan masa depan yang tak terbatas, dengan segala sesuatunya mungkin untuk dilakukan.

Para tekhnofilia bahkan berkeyakinan luar biasa akan solusi tekhnologi. Internet di setiap ruang kelas akan membuat sekolah lebih baik, rekayasa genetika dapat menyembuhkan pelbagai penyakit, atau rekayasa biologi pada tanaman akan menjamin ketersedian pangan bagi seluruh penduduk dunia.

Namun demikian, kemajuan asimetri dunia juga memunculkan kecemasan akan terciptanya masyarakat dua kelas: antara yang menguasai tekhnologi-informasi dan yang tidak, antara yang dapat belajar secara efisien (dengan bantuan kemajuan tekhnologi) dan mereka yang belajar hanya menggunakan kapur dan papan tulis.

Don Tapscott, dalam Blueprint to the Digital Economy (1998), mengingatkan jika proses tekhnologisasi dikendalikan hanya oleh kekuatan pasar, maka dapat tumbuh suatu ‘apartheid tekhnologi’; dimana kelas miskin tidak dapat melakukan apa-apa dan makin tertinggal.

Realitas ini terlihat ketika anak-anak di sekolah elite (di negeri ini ataupun di negara maju) bukan sekedar dimanjakan dengan kemudahan tekhnologi, tapi juga hiruk-pikuk pilihan keterampilan non-akademik yang tak terbatas. Bandingkan dengan anak-anak di pinggiran Jakarta, Banten, apalagi daerah pedalaman; segala aspek begitu berbeda.

Konsekuensinya, segelintir generasi yang menguasai tekhnologi menjadi pemimpin dan menikmati bagian terbesar dari pendapatan nasional, sedangkan mayoritas anak-anak kita menjadi pekerja kasar dan pekerja kerah biru, dengan aktivitas pekerjaan berulang-ulang dan upah minim.

Proporsi kesenjangan pendidikan di Indonesia saat ini identik dengan model pendidikan di Amerika Serikat puluhan tahun yang lalu, atau mungkin lebih menyedihkan; dimana pendidikan nasional bertujuan mendidik 20 persen populasi untuk menjadi pekerja profesional, 30 persen untuk perdagangan dan kerja administratif, dan membiarkan 50 persen sisanya menjadi pekerja pertanian yang tidak terdidik.

Kesenjangan ini, minimnya dana untuk aksesibilitas tekhnologi dan masalah bangsa lainnya, membuat upaya mereduksi ‘apartheid tekhnologi’ sebagai tanggung-jawab masyarakat dan pemerintah yang cukup berat, kalau tidak dibilang utopis. Apalagi ketika pelayanan kebutuhan dasar (pangan, kesehatan, pendidikan) saja masih jauh dari memuaskan.

Demokratisasi akses ini akhirnya hanya bergantung pada filantropi sektor swasta. Salah satunya seperti apa yang dilakukan yayasan To Be One milik Nicholas Negroponte, dengan program penyediaan satu laptop berakses internet untuk setiap anak, yang berjumlah sekitar 1 miliar anak di seluruh dunia.
     
          Learning 2.0
Anak-anak saat ini bukan sekedar membutuhkan demokratisasi akses saja, tapi juga bagaimana mereka mampu menggunakan perangkat teknologi dan informasi tersebut dengan baik.
Akselarasi model pembelajaran, salah satunya digagas oleh the Partnership for 21st Century Skills, mengonfirmasi bahwa kemampuan beradaptasi di dunia yang selalu berubah dengan cepat ini ditentukan oleh aksesibilitas serta tingkat melek tekhnologi dan informasi (information-technological literacy)

Anak-anak sekarang mesti diajarkan sejak dini mengenai tekhnologi. Ranahnya meliputi apa itu tekhnologi, bagaimana tekhnologi bekerja, pencapaian-pencapaian apa yang mungkin didapat dari tekhnologi, serta bagaimana menggunakannya secara efisien dan efektif.

Sehingga setiap anak mampu menggunakan perangkat tekhnologi, instant messaging, website, buku-buku digital, blog, laporan-laporan penelitian di jurnal elektronik, data-data pada search engine, pembelajaran interaktif, hingga chat rooms, dengan baik dan tanpa meninggalkan pengembangan talenta kognitif dan afektif mereka.

Literasi tekhnologi ini memperkaya pembelajaran konvensional yang bertujuan meningkatkan ‘pengetahuan dasar’ (membaca, menulis, matematika, sains, pengetahuan umum serta cultural literacy) dan apa yang disebut para pendidik sebagai ‘portable skills’: berpikir kritis, membuat hubungan antar-gagasan, menyelesaikan masalah, dan mengetahui bagaimana belajar secara berkelanjutan.

‘Portable skill’, yang menekankan kefasihan analitik dan kompetensi kognitif, menjadi begitu krusial karena sifat ‘one touch’ tekhnologi. Kemudahan yang diciptakan oleh tekhnologi menempatkan kemampuan kognitif berlevel tinggi sebagai pembeda produktivitas.

Bagaimanapun, tekhnologi dan literasi tekhnologi, merupakan episentrum kemajuan masa depan. Seperti penuturan Stan Shih, Direktur Acer Group di Taiwan, yang meramalkan bahwa tingkat melek tekhnologi dan informasi yang baik, akan memungkinkan negara berkembang memadatkan pengalaman sejarah mereka: melompati era industri, dan langsung menuju ‘era-baru jaringan kecerdasan’.

Era dimana kemajuan mengesankan masyarakat, perusahaan ataupun negara-bangsa terjadi jika mereka mampu melakukan pemrosesan informasi dan penyebaran pengetahuan kreatif (menciptakan daya guna) dengan baik dan progresif.

Pertanyaannya, apakah kita mampu memanfaatkan kesempatan besar, seperti ramalan Stan Shih diatas? Jika kita dipaksa melihat mayoritas kondisi dan sistem (hardware, software, dan brainware) pendidikan kita saat sekarang, lompatan itu tampaknya utopis, atau mungkin begitu tak terjangkau dalam waktu dekat.

Modal masa depan bangsa kita tinggal bergantung pada kekuatan otak, pengetahuan dan kreativitas generasi saat ini, sembari mengejar ketertinggalan (demokratisasi) tekhnologi tersebut.

FOOTBALL FOR HOPE

Peta kemakmuran dunia memang asimetri. Pemberitaan dan citra visual di media massa dapat mengilustrasikan hal ini dengan baik. Akan sulit bagi kita untuk menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat miskin di Afrika misalnya, dan segelintir masyarakat yang begitu makmur di utara Eropa dan Amerika, adalah berasal dari spesies yang sama. Dalam hal kekayaan, fasilitas, harapan hidup, kesehatan dan pendidikan, keduanya sangat berbeda.

Masyarakat Amerika Serikat misalnya, membelanjakan sedikitnya delapan miliar dollar AS setahun untuk kosmetik, padahal hanya dengan dua miliar dollar AS setahun dapat memenuhi hak semua orang pada pendidikan.

Di Eropa, orang-orang membelanjakan sekitar 11 miliar dollar AS untuk es krim, sedangkan hanya sembilan miliar dollar AS yang dibutuhkan untuk menjamin akses semua orang miskin pada air bersih dan sanitasi.

Kemewahan tidak terkecuali menyentuh juga sepakbola, olahraga paling populer di dunia. Lihat saja perputaran hadiah uang di Liga Champions Eropa musim 2006/2007 yang mencapai 579,6 juta Euro. Atau gaji Steven Gerrard, skipper Liverpool dan timnas Inggris, yang kabarnya mendekati angka enam juta pounds per tahun, atau sekitar 2,1 miliar rupiah setiap pekannya.

Melalui penggunaan tekhnologi komersialisasi yang canggih, sepakbola modern, terutama di Eropa Utara, telah bermetamorfosa menjadi sebuah industri hiburan masa kini dengan perputaran uang yang begitu melimpah.

Tentu saja begitu sulit untuk membandingkan perputaran uang di sepakbola dengan minimnya dana yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di seluruh belahan dunia. Keduanya berada dalam wilayah yang berbeda, meski terkadang memperlihatkan irisan yang begitu nyata.

Salah satu irisannya adalah sebuah pertanyaan etis: apakah sepakbola masa kini juga ikut melestarikan kesenjangan yang begitu mencolok diatas, antara pentas kemewahan dan neraka kemiskinan?

Apakah berlimpahnya uang yang dihabiskan dalam industri sepakbola juga menjadi bentuk ketidak-pedulian masyarakat, sementara di tempat lain jutaan orang meski menghadapi kemiskinan absolut?

           Melawan Kemiskinan
Posisi sepakbola terhadap kemiskinan sesungguhnya sangat kompleks, elusif dan dapat dikaitkan dengan banyak sudut pandang. Berlimpahnya uang mungkin saja ditafsirkan sebagai potret kesenjangan yang menyakitkan bagi masyarakat miskin. Mengapa orang-orang begitu mudah mengeluarkan uang untuk sepakbola, sedangkan bantuan internasional untuk pembangunan millennium (MDGs) hanya ditargetkan sekitar 130 miliar dollar AS pada tahun 2010 nanti.

Akan tetapi, cobalah bertanya pada Samuel Eto’o di Barcelona, Carlos Tevez di Manchester United, atau Fallah Johnson di Persik Kediri, mengenai sepakbola dan kemiskinan. Maknanya akan begitu berbeda. Sepakbola bagi mereka adalah harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Football for hope.

Sepakbola berada dalam lintasan dimana harapan diproduksi, disebarkan dan diinternalisasikan oleh anak-anak miskin yang bermain sepakbola di benua Afrika, di jalan-jalan pemukiman kumuh di Brazil, juga di kampung-kampung di negeri ini.

Mahouve Marcell, pemain Persita Tangerang, yang merupakan anak legenda Kamerun Roger Milla dan pernah bermain di klub Montpellier (Prancis), mengungkapkan bahwa meski ia kini bermain untuk klub yang lebih kecil, ia merasa lebih beruntung dibanding jutaan rakyat Kamerun lain yang mesti bergelut dengan kemiskinan.

Selain menjadi jalan untuk memperbaiki kesejahteraan, sepakbola juga menjadi hiburan yang menyenangkan bagi masyarakat miskin. Dalam momen-momen tertentu sepakbola menjadi pembangkit kebanggaan, medium bagi negara-negara miskin untuk mensejajarkan diri dengan negara maju, sekaligus menjadi aktivitas dimana masyarakat miskin bisa melupakan sejenak kesulitan yang mereka hadapi setiap hari.
          
          Kampanye Global
Pada tahun-tahun terakhir ini, sepakbola tampak lebih aktif dalam keterlibatannya dengan kemiskinan. Insan sepakbola mungkin saja ingin mereduksi persepsi mengenai ketidak-pedulian etis mereka terhadap kemiskinan.

Sepakbola kini punya sebutan lain: football in the fight against poverty. Bentuknya bukan sekedar slogan dukungan, tapi juga penggalangan dana untuk mereduksi kemiskinan.

Seperti sebuah pertandingan bertajuk Match against Poverty di estadio Rosaleda, Malaga, Spanyol, yang mempertemukan tim Ronaldo dan tim Zinedine Zidane menjadi satu contoh dari partisipasi aktif dunia sepakbola melawan kemiskinan. Pertandingan pada November 2007 lalu, dengan 28.963 penonton itu, menghasilkan dana yang digunakan untuk menyediakan peralatan sekolah bagi 3000 anak-anak di Haiti, membantu pembangunan pusat kesehatan dan sekolah di Congo, hingga menciptakan 350 pekerjaan konstruksi di Sri Lanka, dimana 75 tempat cuci dan 44 toilet public, serta banyak tempat penyediaan air bersih dibangun.

Sepakbola juga ikut ambil bagian dalam kampanye global Stand Up Against Poverty pada 15 dan 16 Oktober 2007, yang melibatkan 43.716.440 partisipan di sekitar 127 negara di seluruh dunia. Sepuluh stadion di Italia akan menjadi host bagi kampanye Stand Up, dimana sebelum pertandingan setiap kapten kesebelasan membacakan deklarasi melawan kemiskinan.

Juga di Meksiko, dimana Federasi Sepakbola Meksiko memastikan kampanye Stand Up akan menjadi bagian dari setiap pertandingan sepakbola pada tanggal 15 Oktober di seluruh negeri itu.

Bagaimanapun, tanggung jawab, atau lebih tepat disebut kepekaan (altruisme sosial) industri sepakbola ini adalah salah satu potret untuk menyebarkan hasrat saling menolong diantara masyarakat.

Satu harapan yang mencerahkan dari Zinedine Zidane setelah pertandingan amal di Malaga, bahwa sepakbola memiliki kemampuan untuk memperlihatkan rasa solidaritas yang tinggi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi UNDP.

Lebih jauh, sepakbola dapat menjadi salah satu wahana eksistensial dalam menjawab tantangan terberat akan kemiskinan: bahwa kemiskinan di masa depan akan menjadi sekedar catatan masa lalu di museum. Dimana pertandingan-pertandingan amal untuk mengumpulkan dana, seperti di Malaga itu, tidak perlu lagi dilakukan di masa depan.

Friday, January 11, 2008

KEGILAAN KREATIF

Dalam sebuah pertemuan rutin Masyarakat Psikoanalisis di Vienna, pada suatu siang yang cerah di tahun 1911, Alfred Adler yang kala itu menjadi ketua Masyarakat Psikoanalisis Vienna, menyinggung suatu teori mengenai kreativitas kompensasi.

Melalui teorinya, Adler menganggap bahwa manusia menghasilkan kesenian, ilmu pengetahuan dan aspek-aspek lain dari kebudayaan adalah untuk mengimbangi kekurangan mereka sendiri.
Dengan sedikit mereduksi, Adler hendak memperlihatkan bahwa tindakan-tindakan kreatif adalah reaksi dari perasaan inferioritas kita. Hal ini kemudian menjadi bagian dari tradisi-tradisi psikologi awal, yang kerap mengaitkan hasrat untuk mencipta dan kreativitas dengan masalah-masalah psikologi serta kesehatan mental.

Pendekatan reduktif psikologi atas kreativitas terutama karena melihat pribadi-pribadi yang kreatif, seringkali seperti tidak cocok dengan kebudayaan normatif masyarakat mereka. Van Gogh mengalami psikotis, Gauguin menderita schizoid, Edgar Allan Poe kecanduan alkohol, dan Virginia Woolf benar-benar depresi. Mereka adalah sedikit contoh dari seniman yang eksentrik, hingga yang mengalami kegilaan klinis.

Dalam kajian psikologi modern sendiri, ada sebuah survei kepribadian terhadap 291 tokoh terkemuka dunia dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, yang mencoba memeriksa ada-tidaknya hubungan antara keunggulan kreatif dan ketidakstabilan mental. Hasil survei tersebut, yang juga dimuat di The British Journal of Psychiatry (165:1994), sungguh mengejutkan.

Berdasarkan survei dengan catatan medis dan data-data sumber pertama yang dapat dipercaya itu, sekitar 75% seniman, dan bahkan 90% pengarang mengalami ketidakstabilan mental. Sebagian besar tokoh seni itu adalah figur terkenal: Wagner, Monet, Van Gogh, Hemingway, hingga Dostoyevsky.

          Ambang Bergerak
Meski demikian, beberapa psikolog lainnya, seperti Rollo May, RD Laing dan Danah Zohar, atau psikiater Kay Redfield Jameson, mengembangkan pendekatan psikologi akan kreativitas secara lebih positif.

Temuan terpenting dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh pendekatan positif tersebut, adalah fakta bahwa sedikit sekali hubungan antara kreativitas dengan kegilaan jangka panjang. Justru, mereka yang berada di ambang gila, atau sekedar menderita skizotipy, yang cenderung mencapai karya-karya terbaik.

Orang yang menderita skizotipy memiliki gejala antara lain: pengalaman tidak wajar, distraksi ringan, sesat pikir, cenderung impulsif (bertindak atas dasar impuls, meracau, bertingkah laku aneh, berpenampilan ganjil), introvert (tertutup) dan menyendiri, mengalami ideasi magis (kecenderungan untuk berpikir bahwa pikirannya mempunyai kekuatan fisik, dapat menjadi kenyataan, atau menghubungkan kejadian-kejadian yang sebetulnya tidak berhubungan), kerap berfantasi dan tidak dapat membedakannya dengan kenyataan, serta mengalami ambivalensi (ketidakmampuan menata pikiran karena melihat beragam nilai, kemungkinan, atau pilihan).

Menurut prof Sutardjo A. Wiramihardja, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, riset skizotipy menunjukkan bahwa derajat kesehatan mental bersifat continuum, dari yang normal, menunjukkan penyimpangan ringan, hingga kegilaan klinis yang berat.
Dan dalam continuum itulah, seperti yang diyakini oleh psikolog William James, seniman kerap memiliki suatu ‘pintu’, suatu ambang bergerak (mobile treshold) yang memungkinkan munculnya kekuatan subliminal yang menguasai keadaan mental mereka.

Salah satu gejala skizotipy, yakni ideasi magis dan fantasi, akan memaksa seniman untuk mengimajinasikan hal-hal yang tidak ada, menciptakan tokoh yang tak pernah ada, membawa mereka pada citra visual yang mengarah pada konsep baru, hingga melihat hal-hal dari sudut yang tidak konvensional.

Dengan demikian, karya-karya terbaik seorang seniman bukan sekedar produk dari gangguan mental, ataupun manifestasi dari perasaan berontak atas keterbatasan dirinya (atau kreativitas kompensasi dalam bahasa psikolog Alfred Adler). Sebaliknya, tindakan kreatif muncul dari intelektualitas yang tinggi, terkait dengan kesehatan emosi yang tanpa kepura-puraan, dan ekspresi individu normal bagi aktualisasi diri mereka saat itu.

Gangguan mental ringan, seperti munculnya gejala-gejala skizotipy, memungkinkan seorang seniman menjadi lebih sensitif, kaya imajinasi, serta lebih orisinal dengan asosiasi yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan bagaimana seniman tersebut menyatakan visinya, adalah ketika gangguan mental sedang tidak menderanya.

Ketidakstabilan mental, kegilaan eksentrik, terjerumus dalam penggalian eksistensial di kedalaman kepribadian yang tidak disadari, ataupun penghancuran tatanan lama untuk mencipta sesuatu yang baru, adalah proses acak, bagian mencerahkan namun sulit dijelaskan dari pembaharuan mental 'menjadi otentik'. Hal ini berperan dalam memperluas kesadaran seniman, sekaligus membentuk apa yang disebut dengan kecerdasan identitas.

          Visi Para Pencipta
Bagi kita, penafsir seni atau sekedar penikmat, model pendekatan apapun yang digunakan untuk menggali dimensi-dimensi mental dari proses kreatif seorang seniman, mungkin tidak akan terlalu penting. Kita hanya akan sepakat bahwa kegilaan yang berguna inilah yang menjadi manifestasi kecerdasan identitas dari seorang seniman.

Kita mungkin akan tetap meyakini, bahwa seniman bukan sekedar menyingkap kondisi psikologis dan spiritual yang mendasari hubungan mereka dengan dunia, tapi juga berusaha menggambarkan refleksi emosional dan spiritual masyarakat kebanyakan.

Mereka mengekspresikan apa yang dikatakan oleh Carl Gustav Jung, perintis Psikologi Analitis terkemuka, sebagai ‘yang tidak disadari kolektif’ (unconscious collective). Melalui karyanya, seniman turut menjelaskan apa yang ada dalam diri manusia pada waktu dan budaya tertentu.

Lebih jauh, seniman, menurut John Naisbitt, adalah 'lampu penerang dalam tambang gelap'. Mereka menangkap sinyal budaya yang pertama, memetakan wilayah baru, mengundang resiko, sesekali memacu akal sehat kita, dan secara ajaib bisa memperkirakan hal-hal yang akan datang. Mereka, meminjam frase Mc Luhan, adalah a dew line, satu garis embun, yang memberi kita suatu 'peringatan awal yang jauh' mengenai apa yang akan terjadi dalam kebudayaan kita di masa depan.

Dan pendekatan psikologi turut menambahkan kenyataan mencerahkan ini dengan sedikit hipotetis: inilah kegilaan yang cerdas, kegilaan yang paling berguna, dan terkadang juga berbahaya.

CHILDREN IN THE MIDDLE OF DISASTER

In the late of last year, The National Commission of Children Protection (KOMNAS Perlindungan Anak) reports disclosed that almost 40,3 million child in Indonesia have been disregarded their rights during 2007. About 33,9 million among them because of their education slighted, and another 6,36 million didn’t get an adequate health-care and experience exploitation.

Nowadays, after various catastrophe and infectious diseases which cause widespread deaths, we have another embedded potency to completing our failure in fulfilling children rights; which is provide a secure and stable environment for our child.

With those consecutive disaster that happened and experienced by child, we failure to guarantee, provides and also manages a peaceful world for them. This failure becomes enough crucial, because negative impacts which possible emerge do not as clear as physical impacts that usually seen after disaster.

It’s because disaster could trigger, in children thought, an interpretation about inhospitable environment which do not give them safeness to grow up. Disaster not only causes a physical damage, but also has possibility to result in an emotional impact as convinced as psychical ruination.
          
          Basic Assumptions Crumble
Several study of the psychological impact of catastrophe, according to Dr Ronnie Janoff-Bulman, psychologist from University of Massachusetts, finding that natural disaster holds something in common in its psychic impact with what may seem a minor crisis, such as witnessing a brutal crime.

One of those emotional impact is ‘the sense of benign world’ collapsed. This sense is the feeling about a world which full of friendliness and kindliness, can be controlled and fair. And refer to Erik H Erikson’s stage of psycho-social development, a foremost psychoanalyst; this feeling is the part of basic trust, that is forms during early life, as early as the first two or three years of age.

This sense of basic trust attributes the feeling that the world is a predictable place in which good things will come to you. And from that the child comes to see himself as worthy of that kind of care. These beliefs are at the core of a person’s most basic sense of himself and the world.

Children with a sense of ‘inner certainty' experiences the social world as a safe, stable place and people as nurturant and reliable. Children learn to trust external world, as well as learning to trust themselves. But, being victimized directly by disaster could interrupt these developmental processes.

Catastrophe, unexpectedly, causes the most basic assumption about us and the world are undermine. Its attack our deeply held beliefs; basic trust and sense of inner certainty. Suddenly all the world seems malevolent. Our sense of invulnerability crumbled. And because the two beliefs are so intimately linked, said to Dr Janoff-Bulman, we lose not only our sense that the world is safe for us, but that we are worthy of that safety.

Another negative impact when children victimized by disaster is because this incident could leads children to ask, 'why me?' Children may start looking at themselves, and try to find something to blame it on; to justify and make this horrible fate seems reasonable in their mind. That leads them to highlight the negative aspect of themselves, and at the same time can lower their self-esteem. In a few serious case, its cause syndrome of Post Traumatic Stress Disorder, and victim may undergo a diminished sense of self-worth for ten or fifteen years.

In fact, for professor Erikson, the behavioral consequences of that seriously defective development of basic trust are acute depression in infants and paranoia in adult. Both consequences that we don’t expected.
          
          Reduce Negative Impact
Professor Erikson’s theory of psycho-social development consistent with the epigenetic principle, which is postulate that crisis and developmental stage at childhood are not happened and resolved at that moment. Each development stage, and any crisis of it, not permanently left; it’s reappears at each successive stage of development, and forms the dynamics of personality.

Thereby, psychological recovery process to deal with ‘crisis of basic trust’ at child which victimized by disaster, is a worthy act for development of mental health of our child in future. As recognized to most psychologists, the sense of basic trust is the cornerstone of a healthy personality.

Whenever child becomes victimized by a disaster, they feel the most helpless and passive when confronted by overwhelming danger, and require psychological assistance to reestablish their mental equilibrium. This psychological recovery, which properly done by professional and voluntary help (from para-professional and volunteer), is also significant part to the entire recovery process after disaster.

Our manifestations to foster the psycho-social development of our child are not only through better understanding to the possibility of psychological breakdown after disaster, but also our responsibilities to returning and creating better world for our children. It’s quite helpful, if we look after our environment constantly, producing and also improving an ecological awareness to reducing disaster appearance which is frequently cause by our carelessness.

Even though disaster become unavoidable incident, the important awareness that we ought to kept is to ascertain those disaster not emerge a fatal impact, both physical and psychological, to us and especially to our children.