Friday, January 18, 2019

CHILDREN IN SUICIDE

“Suppose the sky is empty, and life isn’t having purpose anymore, should we kill ourselves? Should we concede our defeat, and determined this life isn’t reasonably to keep on anymore”. This is a philosophy question which submitted by Kirilov on Les Possédés, an inquiring thought from the absurd character on that Dostoievsky masterpiece.


Suicide is an individual phenomenon, weird and elusive, and also offered a different view about death.
Among realities which place suicide as an extraordinary theme, Albert Camus considered suicide was the only philosophical problem which actually serious. Evaluate whether this life proper to go through or not, was the principle answer about philosophy.

Camus philosophies struggle on revealed suicide at the absurd world provide honestly perspective (and also gladden), that human being have to accept their weird condition.

What all said by Camus, and Kirilov too, was a relevant thing at our present life. Suicide stills a concrete reality, apart from its value philosophical debate. Wherein opportunity for suicide escalation quite large, together with increasing of our life pressure.

Global inclination regarding to our complicated future not only give an extremely space for interpretation of Charles Darwin’s “survival of fittest”, but also possibility of suicidal escalation. Both consequences equally worst.

Nowadays, from television or newspaper at our family room, on previous years when they found their freedom once again, we’re easy accessible to a suicidal news (which as popular as the other criminal news). High acceleration of suicidal statistic is a worrying fact. Moreover, if we’re seeing reality that suicidal victim not only an adult, but also children in school age.

Complex Determinant
Traditionally, suicide was comprehensible as an extreme self-defeating behavior, which majority done by an adult with personal reason. Emile Durkheim research which famously explored about suicidal rate in several Europe countries concludes: functionally, suicide was consequence from slack off social integration, although its determinant has variation and individual intensely.

Social background, added with life pressure, visibly make sense as a dominant reason for adult to commit suicide. Nevertheless, when suicide happen to our child in significant amount, we ought to inquired and pay close attention to this symptom. How children, with their innocence and playful contentment, could do this?

An outcome of Kaoru Yamamoto research toward 1.814 children (in USA, Australia, Canada, Egypt, Japan and Philippines) attempted to help us to understand this idiosyncrasy.

Dr Yamamoto, psychologist at University of Colorado in USA, asserted how an embarrassment could bestow a solid blow to children self-esteem and their mental state. The idea when children detected doing something bad, on children mind, will have meaning that they always seem bad. Or, if embarrassed, they thought that they never attain their self-esteem as before again.

Self-image of children shaped continually on a brittle process. As a consequence, children tend to exaggerate something out of proportion. And occasionally, conscience-stricken of children is more fervent than adult.

If we observe child suicide carefully, much case is caused by parent’s lack of ability to fulfill children needs, which finally create a solid blow to a child: an embarrassed sense and inferiority complex among their friends.

These facts, as said by Ann Epstein, psychiatrist at Harvard Medical School in USA, could summarize that the most usual trigger on child suicide is an embarrassing experience.

These explanations not only give a warning that parents doesn’t actually understand about what things which make children feel stress and shattered their self-esteem, decided what happen (and thinking by children) too quick, and often take a hasty decision.

But, these explanations also focus on the family and peer’s effectiveness role, as an early social circle for child. How family and peer running their traditional function to support child development, with produce a warmth and familiarities atmosphere which offer a secure state. These functions could translate as a root of social integration to our society.

Because of that, present families have to carry out more complex responsibilities. They’re demand to supplied a proper life for their children, protected from external jeopardy, and included maintain their sensitivity toward their child mental health.

Social Disintegration?
On the other perspective which still linked, if we believe in what Durkheim done on his research, we have to relate suicidal escalation, whether on child or adult, as an inclination features of weaken social integration to our society.

This hypothesis seems reasonable. On wider scale, we’re metamorphoses at unlimited global village. We’re face with west civilization, which its principal spirits is consumerism, belief in capitalist machine, materialism, and individualisms life style and which related with it: absolute freedom.

Some of that values manifested on our completely apathetic toward anguish and problem of the other. This altruism deficiency afterwards becomes a trigger for social agitation, vertical conflicts, and even suicide. This is a subtle deadly disease on the heart of our society.

However, all sorts of determinant (and also consequence) that mentioned above is only strengthen suicidal phenomenon as a complex psycho-social reality. Because, not only talk about individuals, family and society. But also about education which should have been sharpen society’s emotional state, expand and share values which said by Camus: human beings have to accept a desire which planted inside them wisely. A desire for obtains clarity in the middle of obscurity and excessively uncertainties.

And the important one is an optimal achievement from our government to manage society, and bring prosperity which is evenly distributed through all kinds of improvement programs and sustainable development.
***

METAMORPHO-SELF


Hidup itu netral.
Itulah metafora yang disimpulkan oleh Fred Spencer, penulis buku The Jungle Is Neutral. Spencer adalah tentara Inggris semasa Perang Dunia II pada sebuah garnisun kecil di Singapura. Ia menuliskan pengalaman survive dalam hutan, selama 9 bulan, setelah Inggris kalah di kepulauan itu.
Menurut Spencer, hidup ternyata sama seperti hutan. Hidup tidak ‘berusaha’ menghancurkan, dan tidak pula mendukung kita. Kemampuan bertahan bergantung pada semangat, menggali kemampuan diri dan kemudian memanfaatkannya. Bahkan di medan yang sama sekali belum kita kenali.
Hal ini terjadi karena manusia, dengan neo-korteksnya (perangkat otak berpikir) yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lain di muka bumi ini, mempunyai kapasitas untuk beradaptasi.
Seperti yang dikatakan Robert Ornstein, otak ternyata tidak dirancang pertama-tama untuk berpikir. Tetapi untuk belajar, bereaksi dan beradaptasi demi kelangsungan hidup. Mahakarya ini, yang memiliki kemungkinan hubungan antar sel lebih banyak dari jumlah atom jagat raya, menempatkan manusia sebagai spesies yang superior. Dan masih bertahan hingga saat ini.
Manusia mampu meneliti lingkungannya, membuat sesuatu yang baru, meramalkan masa depan, bahkan memanipulasi kondisi fisik demi tujuan-tujuan tertentu. Intinya, apa yang bisa dipikirkan, maka dapat dilakukan!
Lalu apa hubungan antara hidup yang netral, potensi beradaptasi dengan kita? Kita setidaknya dapat mempertautkan tema ini dengan trend-trend pembicaraan yang sedang hangat saat ini.
Salah satu pilihannya adalah momentum pergantian tahun. Perayaan tahun baru, dengan atau tanpa sense of crisis, tidak semuanya hura-hura, liburan dan pesta, atau kebisingan yang disengaja. Ada juga yang berkhidmat dalam rasa syukur, merefleksikan dan mengevaluasi setiap hal selama setahun yang lalu.
Yang lebih mencerahkan, ada yang menjadikan detik pergantian tahun sebagai deklarasi target-target yang ingin dicapai tahun depan.

Wish of the Year
Alan Kay, eksponen penting di Pusat Riset Palo Alto, pernah mengatakan kalau satu-satunya cara untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakannya.
Dan proses lebih awal dari penciptaan adalah perencanaan; inilah bentuk adaptasi sistematik manusia, meskipun seringkali diperkuat oleh keputusan-keputusan intuitif, serta cenderung emosional.
Dalam struktur linguistik Ferdinand Saussure, seorang filosof Prancis yang berusaha me-rekonstruksi pemaknaan atas dunia, terdapat logika oposisi biner untuk setiap konsep. Oposisi untuk terencana adalah proses acak, tidak sistematis atau fleksibel.
 Kita sering mendengar idiom hidup seperti air, mengalir, let it flow dan tanpa rencana. Tetapi, boleh jadi, tidak ada yang benar-benar mengikuti pola hidup tanpa rencana tersebut. Karena setiap manusia pasti memiliki tujuan, disadari atau tidak, baik jangka pendek ataupun panjang.
Dengan adanya tujuan, berarti kita telah melewati salah satu proses dari perencanaan. Sehingga yang ada hanyalah gradasi perencanaan dalam hidup; dari yang tanpa disadari, sampai pada bentuk yang sangat detail.
Jika kita memilih untuk menghadapi hidup apa adanya, mengalir begitu saja, mungkin kita akan
menemui kejutan-kejutan yang tak terbayangkan. Tapi, selaras dengan filosofi air, kita juga bisa terjebak dalam arus yang tidak bisa kita kendalikan.
Untuk itu, tidak ada salahnya untuk punya rencana tahun depan. Lagipula, kita leluasa memilih tingkatan dan caranya.
Rencana yang sederhana, adalah kebebasan kita dalam berimajinasi mengenai apa yang kita inginkan. Pencapaian terbaik seringkali diawali dari khayalan ‘gila’, yang bisa dilakukan sambil mendengar Eine Kleine Nachtmusik-nya Mozart.
Kita bisa mencatatnya dalam daftar 101 keinginan. Wish of the year. Atau mengurainya dalam bidang spesifik, semisal: target akademis, pekerjaan, kegiatan atau keterampilan baru yang harus dicapai, relasi sosial ataupun kehidupan asmara.
Rencana imajinatif seperti ini juga penting, dan dapat membuat kita mengalir mengikuti tujuan ideal kita.
Ada juga media perencanaan yang ber-presisi lebih tinggi. Seperti penggunaan kaidah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Time Bound), yang mendesain pencapaian tujuan kita dalam langkah terkecil dan dapat diukur.
Semakin kita dewasa, dan semakin kompleks permasalahan yang kita hadapi, membuat perencanaan bertambah rumit dan detail, layaknya sebuah analisis SWOT ataupun penerapan SAP (Strategic Advantages Profile) dalam metode perencanaan strategis.
Kita juga dapat meminta bantuan program komputer, yang secara cerdas membantu kita dalam berpikir linear serta sekuensial.

Metamorphoself
Hebatnya lagi, selain membantu kita mengarahkan hidup, perencanaan setidaknya dapat membawa kita pada keadaan mental yang positif. Karena kesemua proses menempatkan kita pada pengembangan diri yang berkelanjutan.
Manfaat yang terbaik tentu sikap optimis, sikap yang dapat dipelajari oleh siapapun. Rencana kita, atau imajinasi mengenai cetak biru masa depan kita pastilah yang terbaik, sehingga dapat men-stimulasi positive thinking dan sikap optimis, sekaligus meredam negaholics (selalu berpikiran negatif).
Bagi mereka yang merencanakan perubahan revolusioner dalam hidup, menurut Charles Garfield, guru besar Universitas California, berarti menjadi bagian dari manusia-manusia yang berani keluar dari ‘wilayah aman’-nya. Dimana hasrat perubahan ini dapat memicu energi quantum; yakni suatu interaksi potensi dalam diri manusia yang membentuk energi dahsyat, dapat ditularkan pada orang lain, dan berpotensi membawa manusia pada level yang tidak terkira sebelumnya.
Dari hasrat perubahan ini pula, kita berusaha mengenali potensi diri dan memanfaatkannya dengan optimal, seperti cerita Fred Spencer diatas.
Dan sesuai dengan keyakinan Sun Tzu, kita semestinya akan memenangi seribu perang sekalipun dalam hidup, ketika kita sanggup mengenali diri, lingkungan dan musuh-musuh kita.
Masih banyak segi taktis lain yang bermanfaat dari perencanaan. Namun, tetap saja, apakah kita akan mendesain rencana untuk tahun depan atau tidak, adalah sebuah pilihan. Kita yang memilih bagaimana menjalani kehidupan.
Quo vadis 2019, hendak diarahkan kemana kehidupan kita di tahun 2019 nanti? Semuanya bergantung pada kita. Belum terlambat untuk sekedar merencanakan resolusi dan pencapaian-pencapaian kita di tahun depan.
Tanpa obsesi untuk menyimpulkan, perencanaan mungkin adalah bentuk sintesa, atau komplemen dari kenetralan hidup.
Semoga kita semua menjadi person of the year di akhir tahun ini. Minimal bagi diri kita sendiri.
***

Thursday, June 07, 2018

Newspeak Noam Chomsky

Bagi kita, masyarakat dunia ketiga, menyebut para pemimpin Amerika Latin yang galak (Fidel Castro, Hugo Chavez dan Evo Morales), ataupun para fundamentalis Islam di Iran sebagai penentang kepemimpinan global Amerika Serikat, boleh jadi merupakan kelaziman.

Menjadi lazim karena polarisasi musuh-musuh utama AS itu kental dengan prasangka politik. Suara penentangan akan berbeda jika muncul dari jantung peradaban itu sendiri: intelektual AS, dan jika memungkinkan berketurunan Yahudi.

Satu sosok intelektual berbeda itu ialah Noam Chomsky, seorang analis paling tajam atas kebijakan luar negeri AS. Selain menentang neo-liberalisme, Chomsky juga melihat desain ‘propaganda mental' AS akan tata dunia baru justru memperlemah demokrasi, menindas HAM dan hanya membawa kepentingan segelintir pemilik modal.

Bagi Robert W. McChesney, profesor komunikasi Universitas Illinois, Noam Chomsky adalah seorang anarkis, oposan berdimensi sosialis libertarian dan figur otoritatif di bidang linguistik.

Necessary Illusions
Noam Avram Chomsky (7 Desember 1928), putra seorang emigran Rusia, dibesarkan oleh keluarga Yahudi radikal, yang sempat melewati masa mudanya dengan menjual koran di kios pamannya di New York.

Pendidikan dasarnya diselesaikan di Oak Lane dan Sekolah Menengah Pusat Philadelphia. Lalu, Chomsky kuliah di Universitas Pennsylvania, dengan mendalami studi bahasa, matematika dan filsafat. Selama menjadi mahasiswa, Chomsky muda sangat terkesan akan pandangan politik radikal dari dosen linguistiknya, profesor Zellig Harris.

Minat politik inilah yang membuat Chomsky mengintroduksi 'revolusi kritis' pada kajian linguistik. Dengan integrasi linguistik, basis matematika dan logika modern, Chomsky menghasilkan master piece-nya di bidang generative grammar (pendekatan yang menghubungkan bahasa dan pikiran).

Dalam buku pentingnya, Manufacturing Consent: the Political Economy of the Mass Media (1988), yang ditulis bersama Edward Herman, profesor keuangan Universitas Pennsylvania, Chomsky menegaskan peran propaganda media global dalam mendesain persepsi publik akan isu-isu tertentu. Terutama isu politik internasional, terorisme dan tata dunia baru.

Media global membangun simbolisasi bagi lingkungan palsu di sekitar kita, dengan menyuplai informasi bias secara berkelanjutan. Informasi menyesatkan ini dinamakan Chomsky dengan 'ilusi-ilusi yang perlu' dalam membangun 'skema kognitif' kita akan suatu peristiwa, sesuai dengan agenda dari negara adikuasa.

Menurut Chomsky, sistem ini mengontrol pikiran kita dengan penggunaan kata-kata dan pemberian makna tertentu, yang dikenal dengan Newspeak. Sejumlah Newspeakdiproduksi untuk membatasi pandangan kita akan realitas. Secara reflektif, Chomsky menyebutnya sebagai 'the American Ideological System'.

Penulis Profilik

Sebagai intelektual yang hidup di salah satu episentrum kemajuan dunia modern, Chomsky berperan sebagai bagian penggerak perkembangan intelektual dengan mengajar di Massachusetts Institute of Technology (MIT), tepat setelah Ia meraih Ph. D di Universitas Pennsylvania pada 1955. Chomsky bahkan menjadi profesor linguistik dan filsafat di universitas tersebut.

Hingga kini, selain mengajar di berbagai penjuru dunia dan menjadi aktivis politik berbasis keadilan sosial, profesor Chomsky juga menulis lebih dari 30 buku politik dengan beragam tema.

Karya-karya terpentingnya, selain Manufacturing Consent diatas, antara lain adalah Political Economy of Human Rights (1979), Towards a New Cold War (1982), Pirates & Emperors: International Terrorism in the Real World (1986), Necessary Illusions (1989), World Orders, Old & New (1994), hingga Profit over People: Neo-liberalism & Global Order (2003).

Seluruh karya politis profesor Chomsky (dari anti imperialis, analisis media kritis, bahasa, demokrasi dan gerakan buruh), merupakan suatu jalinan karya mengenai demokrasi, polarisasi terhadap kebijakan AS serta whistle-blower atas ancaman mencemaskan dari neo-liberalisme.***

Monday, September 06, 2010

HEGEMONY & THE BUSINESS OF WAR


Recently, those who have criticised the actions of the US government (myself included) have been called "anti-American". Anti-Americanism is in the process of being consecrated into an ideology. The term is usually used by the American establishment to discredit and, not falsely - but shall we say inaccurately - define its critics. Once someone is branded anti-American, the chances are that he or she will be judged before they're heard and the argument will be lost in the welter of bruised national pride.

What does the term mean? That you're anti-jazz? Or that you're opposed to free speech? That you don't delight in Toni Morrison or John Updike? That you have a quarrel with giant sequoias? Does it mean you don't admire the hundreds of thousands of American citizens who marched against nuclear weapons, or the thousands of war resisters who forced their government to withdraw from Vietnam? Does it mean that you hate all Americans?

This sly conflation of America's music, literature, the breathtaking physical beauty of the land, the ordinary pleasures of ordinary people with criticism of the US government's foreign policy is a deliberate and extremely effective strategy. It's like a retreating army taking cover in a heavily populated city, hoping that the prospect of hitting civilian targets will deter enemy fire.

There are many Americans who would be mortified to be associated with their government's policies. The most scholarly, scathing, incisive, hilarious critiques of the hypocrisy and the contradictions in US government policy come from American citizens.

To call someone anti-American, indeed, to be anti-American, is not just racist, it's a failure of the imagination. An inability to see the world in terms other than those that the establishment has set out for you: If you don't love us, you hate us. If you're not good, you're evil. If you're not with us, you're with the terrorists.

Many people around the world made the mistake of scoffing at this post-September 11 rhetoric, dismissing it as foolish and arrogant. It's actually a canny recruitment drive for a misconceived, dangerous war. How many people believe that opposing the war in Afghanistan amounts to supporting terrorism.

Now that the initial aim of the war - capturing Osama bin Laden - seems to have run into bad weather, the goalposts have been moved. It's being made out that the whole point of the war was to topple the Taliban regime and liberate Afghan women from their burqas. We're being asked to believe that the US marines are actually on a feminist mission. (If so, will their next stop be America's military ally, Saudi Arabia?) Pakistan and Bangladesh have even worse ways of dealing with minority communities and women. Should they be bombed?

To fuel yet another war - this time against Iraq - by manipulating people's grief, by packaging it for TV specials sponsored by corporations selling detergent or running shoes, is to cheapen and devalue grief, to drain it of meaning. We are seeing a pillaging of even the most private human feelings for political purpose. It is a terrible, violent thing for a state to do to its people.

The US government says that Saddam Hussein is a war criminal, a cruel military despot who has committed genocide against his own people. That's a fairly accurate description of the man. In 1988, he razed hundreds of villages in northern Iraq and killed thousands of Kurds.

Today, we know that that same year the US government provided him with $500m in subsidies to buy American farm products. The next year, after he had successfully completed his genocidal campaign, the US government doubled its subsidy to $1bn. It also provided him with high-quality germ seed for anthrax, as well as helicopters and dual-use material that could be used to manufacture chemical and biological weapons.

It turns out that while Saddam was carrying out his worst atrocities, the US and UK governments were his close allies. So what changed?

In August 1990, Saddam invaded Kuwait. His sin was not so much that he had committed an act of war, but that he acted independently, without orders from his masters. This display of independence was enough to upset the power equation in the Gulf. So it was decided that Saddam be exterminated, like a pet that has outlived its owner's affection. (Maybe, in future, if our country, Indonesia, wants to re-negotiate or nationalized the mining projects which interrelated with American's multi-national corporate, they could bomb us too!)

A decade of bombing has not managed to dislodge him. Now, almost 12 years on, Bush Jr is ratcheting up the rhetoric once again. He's proposing an all-out war whose goal is nothing short of a regime change. Andrew H Card Jr, the White House chief-of-staff, described how the administration was stepping up its war plans for autumn: "From a marketing point of view," he said, "you don't introduce new products in August." This time the catchphrase for Washington's "new product" is not the plight of people in Kuwait but the assertion that Iraq has weapons of mass destruction. Forget "the feckless moralising of the 'peace' lobbies," wrote Richard Perle, chairman of the Defence Policy Board. The US will " act alone if necessary" and use a "pre-emptive strike" if it determines it is in US interests.

Weapons inspectors have conflicting reports about the status of Iraq's weapons of mass destruction, and many have said clearly that its arsenal has been dismantled and that it does not have the capacity to build one. What if Iraq does have a nuclear weapon? Does that justify a pre-emptive US strike? The US has the largest arsenal of nuclear weapons in the world. It's the only country in the world to have actually used them on civilian populations. If the US is justified in launching a pre-emptive attack on Iraq, why, any nuclear power is justified in carrying out a pre-emptive attack on any other. India could attack Pakistan, or the other way around.

Recently, the US played an important part in forcing India and Pakistan back from the brink of war. Is it so hard for it to take its own advice? Who is guilty of feckless moralising? Of preaching peace while it wages war? The US, which Bush has called "the most peaceful nation on earth", has been at war with one country or another every year for the last 50 years.

Wars are never fought for altruistic reasons. They're usually fought for hegemony, for business. And then, of course, there's the business of war. In his book on globalisation, The Lexus and the Olive Tree, Tom Friedman says: "The hidden hand of the market will never work without a hidden fist. McDonald's cannot flourish without McDonnell Douglas. And the hidden fist that keeps the world safe for Silicon Valley's technologies to flourish is called the US Army, Air Force, Navy and Marine Corps." Perhaps this was written in a moment of vulnerability, but it's certainly the most succinct, accurate description of the project of corporate globalization that I have read.

After September 11 and the war against terror, the hidden hand and fist have had their cover blown - and we have a clear view now of America's other weapon - the free market - bearing down on the developing world, with a clenched, unsmiling smile. The Task That Never Ends is America's perfect war, the perfect vehicle for the endless expansion of American imperialism.

In the past 10 years, the world's total income has increased by an average of 2.5% a year. And yet the numbers of the poor in the world has increased by 100 million. Of the top 100 biggest economies, 51 are corporations, not countries. The top 1% of the world has the same combined income as the bottom 57%, and the disparity is growing.

Now, under the spreading canopy of the war against terror, this process is being hustled along. The men in suits are in an unseemly hurry. While bombs rain down, contracts are being signed, patents registered, oil pipelines laid, natural resources plundered, water privatized and democracies undermined.

But as the disparity between the rich and poor grows, the hidden fist of the free markets has its work cut out. Multinational corporations on the prowl for "sweetheart deals" that yield enormous profits cannot push them through in developing countries without the active connivance of state machinery - the police, the courts, sometimes even the army.

Today, corporate globalization needs an international confederation of loyal, corrupt, preferably authoritarian governments in poorer countries, to push through unpopular reforms and quell the mutinies.

It needs a press that pretends to be free. It needs courts that pretend to dispense justice. It needs nuclear bombs, standing armies, sterner immigration laws, and watchful coastal patrols to make sure that its only money, goods, patents and services that are globalize.

Not the free movement of people, not a respect for human rights, not international treaties on racial discrimination or chemical and nuclear weapons, or greenhouse gas emissions, climate change, or, God forbid, justice. It's as though even a gesture towards international accountability would wreck the whole enterprise.

Close to five year after the war against terror was officially flagged off in the ruins of Afghanistan, in country after country freedoms are being curtailed in the name of protecting freedom, civil liberties are being suspended in the name of protecting democracy. All kinds of dissent is being defined as "terrorism".

Donald Rumsfeld said that his mission in the war against terror was to persuade the world that Americans must be allowed to continue their way of life. When the maddened king stamps his foot, slaves tremble in their quarters. So, it's hard for me to say this, but the American way of life is simply not sustainable. Because it doesn't acknowledge that there is a world beyond America.

Fortunately, power has a shelf life. When the time comes, maybe this mighty empire will, like others before it, overreach itself and implode from within. It looks as though structural cracks have already appeared. As the war against terror casts its net wider and wider, America's corporate heart is haemorrhaging. A world run by a handful of greedy bankers and CEOs whom nobody elected can't possibly last.

Soviet-style communism failed, not because it was intrinsically evil but because it was flawed. It allowed too few people to usurp too much power: 21st-century market-capitalism, American-style, will fail for the same reasons.

| Original Tittle: Not Again, by Arundhati Roy | Published at Guardian, 27 Sept 2002 |

Sunday, September 05, 2010

GERAKAN MELEK EKOLOGI


Krisis lingkungan menjadi arus utama perdebatan masyarakat dunia dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya pada peringatan Hari Bumi, setiap 22 April saja, yang menjadi momentum untuk merejuvenasi perasaan peduli kita pada alam. Saat sekarang, setiap orang yang peduli dengan keberlangsungan kehidupan manusia berusaha menjadikan krisis lingkungan dan bagaimana cara penanggulangannya sebagai isu bersama.

Seperti beberapa pakar multidisiplin dari berbagai negara, yang berkumpul dalam Intergovernmental Panel on Climate Change of the United Nations. Para pakar ini mencoba menganalisis kemungkinan penyebab rangkaian bencana dalam beberapa tahun terakhir. Hipotesis yang muncul adalah bahwa pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca, dapat memicu perubahan iklim global, menghadirkan gelombang panas, memicu kenaikan permukaan laut, termasuk kekeringan dan banjir yang datang silih berganti. 

Krisis lingkungan akibat perubahan iklim global, bukan semata berdampak pada keseimbangan alam, tapi juga menjadi ancaman luar biasa bagi keberlangsungan bumi di masa depan. Hal inilah yang membuat upaya-upaya anti-tesis bagi krisis lingkungan menjadi derivasi yang krusial bagi pembangunan berkelanjutan.

Pusat-pusat studi lingkungan berbentuk organisasi intergovernmental, program lingkungan PBB (UNEP), Commission on Sustainable Development (CSD), hingga KTT Bumi di Rio de Janeiro pada 1992 dan Protokol Kyoto hanyalah rangkaian kampanye untuk menegaskan dukungan politik untuk mereduksi pemanasan global. 

Selain menjadikan arus utama perdebatan masyarakat dunia, komunitas-komunitas yang peduli lingkungan juga mengampanyekan integrasi antara antitesis krisis lingkungan, ideologi kontra pemanasan global dan konsepsi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). 

Pembangunan berkelanjutan ini diawali oleh sekelompok masyarakat dengan pemahaman kognitif yang memadai tentang hakikat dan prinsip-prinsip ekologi. Proses meningkatkan pemahaman inilah yang dinamakan ecological literacy atau ecoliteracy. 

Desain Ekologi

Ecoliteracy, sebuah paradigma baru yang dipopulerkan oleh Fritjof Capra, bertujuan meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat. Ecoliteracy berupaya memperkenalkan dan memperbaharui pemahaman masyarakat akan pentingnya kesadaran ekologis global, guna menciptakan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kesanggupan bumi untuk menopangnya.

Pada awalnya ecoliteracy lebih dikenal dengan ecological awareness, atau kesadaran ekologis. Dengan penggunaan kata ecoliteracy, berarti kita bukan sekedar membangkitkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan, tapi juga memahami bekerjanya prinsip-psinsip ekologi dalam kehidupan bersama yang berkelanjutan di planet bumi ini. Kita memercayai bahwa prinsip-prinsip ekologi sejatinya menjadi penunjuk arah bagi penciptaan komunitas belajar berbasis pembangunan berkelanjutan. 

Dengan demikian, `melek ekologi` merupakan tahap pertama dari pembangunan komunitas-komunitas yang berkelanjutan. Tahap kedua adalah apa yang disebut dengan ecodesign, atau rancangan bercorak ekologi. Ecodesign dapat diterapkan di hampir segala bidang. Kita mengenalnya dalam frasa-frasa yang mulai lazim belakangan ini, semisal ecoeconomy, ecocity, ecofarming, ecotechnology, hingga ecopsychology. Tahap ketiga dari proses ini adalah terbentuknya komunitas-komunitas berkelanjutan yang menyadarkan dirinya pada prinsip ekologi.

Untuk mendukung gerakan `melek ekologi` ini, Fritjof Capra bersama Peter Buckley dan Zenobia Barlow mendirikan The Center for Ecoliteracy pada tahun 1995, di Berkeley, Amerika Serikat. The Center for Ecoliteracy diperuntukkan untuk memperjuangkan dan menyebarluaskan paradigma baru berupa konsep ecoliteracy diatas.
Selain mencoba menginternalisasi prinsip-prinsip ekologi dalam bidang praksis diatas, Fritjof Capra juga mengungkapkan pentingnya integrasi paradigma ecoliteracy dalam kurikulum di sekolah. Pendidikan perlu memastikan pemahaman peserta didik yang lebih baik akan sistem kehidupan, siklus dan jaring kehidupan, ataupun daya dukung bumi di masa depan.

Frijof Capra sendiri, dalam sebuah kuliah di Liverpool Schumacher Lectures, 20 Maret 1999, mengatakan, keberhasilan `melek ekologi` membutuhkan kurikulum yang memastikan guru dapat mengajarkan prinsip-prinsip ekologi, seperti: (1) bahwa ekosistem tidak menghasilkan limbah dalam arti sebenarnya, karena limbah dari satu spesies merupakan makanan bagi spesies lainnya, (2) zat makanan berputar secara kontinu melalui lingkaran kehidupan, atau web of life, (3) bahwa energi yang menggerakkan perputaran kehidupan berasal dari matahari, (4) keanekaragaman dan kompleksitas jaringan ekologis menjamin stabilitas ekosistem, dengan keseimbangan yang dinamis, (5) dan bahwa kehidupan semua organisme, sejak permulaan kehidupan sekitar 3 miliar tahun yang lalu, tidak dilalui dengan peperangan, melainkan atas dasar kerja sama, kemitraan dan jaringan.

Karena keberlangsungan kehidupan (manusia) bergantung pada kemampuan kita memahami prinsip-prinsip ekologi, dan bagaimana kita menjalani keseharian hidup berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. ***

*Juga dipublikasikan di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT, 07 Mei 2009

Sunday, February 28, 2010

SISI PSIKOLOGIS BERAGAMA

Spiritualitas adalah salah satu trend sosial budaya dari masyarakat masa kini. Meski spiritualitas tidak mesti berhubungan dengan agama, bagi sebagian orang, spiritualitas mungkin menemukan cara pengungkapan yang tepat melalui agama formal.

Para penafsir sosial budaya memetakan suatu siklus hibrid yang nampaknya berkembang di masyarakat Barat: era intelektual, emosional, dan akhirnya era spiritual. Sedangkan di sini, di Indonesia, dan banyak negeri timur lainnya, agama dan spiritualitas adalah entitas yang begitu dekat. Ia selalu hadir dalam ruang hidup dan keseharian kita.

Meski begitu dekat, agama tetap menjadi wacana perdebatan yang membingungkan, karena kerap menampakkan realitas elusif yang berlawanan; memicu kekerasan komunal tapi juga mengkloningkan solidaritas kemanusiaan, mengembangkan irasionalitas yang berjalan seiring dengan pencarian ilmu pengetahuan, hingga meletupkan banyak peperangan sekaligus men-share perdamaian paling hakiki.

Berbagai pendekatan pun telah digunakan untuk lebih memahami agama. Namun, dibandingkan dengan pendekatan lain, pendekatan psikologi dianggap sebagai pendekatan yang lebih manusiawi dan adil.

Psikologi mencoba menggali dimensi-dimensi penting yang kompleks dalam struktur serta dinamika mental manusia dan juga masyarakat, terutama untuk mengenali derivasi mental dari perilaku beragama manusia.

Agama tidak menjadi realitas langit, yang sakral dan transenden. Sebaliknya, psikologi memperlakukan agama dalam perspektif perilaku manusia, yang melibatkan manusia dimanapun, dengan agama apa saja.

Candu Masyarakat?
Psikologi lazimnya tidak mengajukan pertanyaan ‘apakah Tuhan itu’, ataupun eksplitasi ‘bagaimana Tuhan dapat kita temukan’. Psikologi berusaha menerjemahkan basis-basis motivasional dari tingkah laku (ber)agama.

Para psikolog awal membahas agama sebagai hal yang alamiah, bersifat bawaan, tidak dipelajari, instingtif dan berasal dari sumber primal. Namun demikian, irisan tematik antara psikologi dan agama yang paling sering ditafsirkan adalah bahwa agama memiliki karakter defensif dan melindungi; bahwa perasaan lemah dan tidak berdayalah yang membuat manusia membutuhkan agama.

Sigmund Freud, peletak dasar-dasar psikoanalisa paling otoritatif, dalam bukunya The Future of an Illusion (1961) mengungkapkan bahwa motivasi beragama bersumber dari ketak-berdayaan manusia menghadapi kekuatan-kekuatan dari luar dirinya dan dorongan instingtif di dalam dirinya.

Lebih jauh Freud menilai perilaku beragama di atas sebagai keadaan mental yang identik dengan obsessive-compulsive neurosis. Agama adalah ilusi, atau gagasan invasif yang diciptakan manusia secara sengaja untuk mengatasi berbagai masalah psikologis dan perasaan inferior yang dihadapi mereka.

Sedangkan aktivitas-aktivitas ritual dalam beragama merupakan tindakan compulsive yang dilakukan berulang-ulang untuk mengurangi kecemasan tersebut. Persistensi ilusi dan ritualisme ini, dalam bahasa Marxian, dapat berkembang menjadi candu obsesif bagi masyarakat.

Selain itu, Freud juga menemukan bahwa orang beragama sering mengalami feeling of powerlessness (perasaan ketergantungan). Dengan perasaan dependensi itu, orang tidak akan pernah sampai pada kedewasaan beragama karena gagal membangun otonomi dirinya sendiri sebagai manusia.

Melalui penafsiran tematik Freud diatas, banyak kalangan akademik kemudian dengan cepat menghakimi Freud sebagai penganjur ketidakpercayaan atas Tuhan (ateisme). Padahal, dengan menggunakan telaah introspektif, sebenarnya Freud bermaksud mengangkat suatu keprihatinan etis; bahwa dengan beragama manusia bisa saja terjebak dalam suasana patologis, terlebih jika kemampuan akalnya tidak digunakan untuk mengembangkan kesadaran beragama.

Penelitian psikolog Gordon Willard Allport, dalam bukunya The Individual & His Religion (1960), mendukung hipotesis Freud diatas. Allport mengungkapkan bahwa subjek-subjek yang menerima agama tanpa merenungkannya dan tidak kritis nampak mengalami beragam konflik, kegelisahan dan kecurigaan.

Religious Feeling

Melalui sudut perspektif yang berbeda, Sigmund Freud sejatinya sedang menerjemahkan suatu kekhawatiran atas peminggiran hakikat agama, yakni religious feeling, oleh perasaan otoritatif yang tidak terkendali, yang dianggap orang beragama sebagai ‘agama’.

Inilah yang dipotret oleh Robert A Johnson dalam Ectasy: Understanding the Psychology of Joy (1987), sebagai hilangnya ekstase spiritual dalam masyarakat Barat. Kehampaan yang diwariskan oleh kemiskinan humanisme Barat malah diisi dengan etos kesuksesan sebagai agama pengganti (ersatz religion) dan tidak resmi (illicit).

Orientasi keagamaan direduksi menjadi ekstrinsik, terfokus keluar, sekedar memberikan status dan perasaan aman. Erich Fromm, psikolog kelahiran Frankfurt Main, menyebutnya sebagai sikap beragama yang belum matang.

Secara implisit, pembacaan psikologi terhadap agama adalah hasrat pencarian akan bentuk-bentuk beragama yang sehat dan matang secara psikologis. Suatu hakikat agama sebagai manifestasi penyembuhan ruhani (cure of the soul). Agama sebagai sistem yang memberikan manusia kerangka orientasi dan obyek pengabdian, sekaligus sebagai cara untuk memahami dunia ini (world view).

Dalam buku provokatifnya, Psychology & Religion (1979), Carl Gustav Jung meyakini bahwa keberagamaan yang sehat dan matang adalah reservoir bagi energi spiritual. Sebuah orientasi keagamaan yang berbasis intrinsik, dan selaras dengan apa yang disebut tradisi keagamaan sebagai religious feeling (perasaan keberagamaan).

Religious feeling ini termanifestasi dalam pemahaman kita akan kebaikan tertinggi dalam bentuk: keikhlasan dan kerelaan bawaan (yang diantaranya diekspresikan dalam sikap saling menolong dan intuisi simpatetis pada esensi penderitaan orang lain), cinta dan persaudaraan demi mengurangi penderitaan, serta jalan bagi kebebasan dan tanggung jawab sosial manusia dalam mengembangkan spiritualitas dan pencapaian cita-cita kebenaran.

William James, psikolog dan filosof pragmatis terkemuka dari Harvard, melalui buku klasiknya The Varieties of Religious Experience (1902), menilai bahwa agama tidak boleh dinilai oleh dirinya sendiri saja, tetapi juga demi akibat-akibat moral dan psikologis yang terkait dengannya.

William James melihat dampak psikologis yang paling positif dari dorongan religius adalah cinta akan hidup. Kearifan perenial ini membuat hidup yang lebih agung, kaya dan memuaskan, sebagai tujuan agama pada analisis terakhir.

Monday, July 27, 2009

SISI PSIKOLOGIS DARI KREATIVITAS

DALAM suatu pertemuan rutin, Masyarakat Psikoanalisis di Vienna, pada suatu siang yang cerah di tahun 1911, Alfred Adler yang kala itu menjadi ketua Masyarakat Psikoanalisis Vienna, menyinggung suatu teori mengenai kreativitas kompensasi. Melalui teorinya, Adler menganggap bahwa manusia menghasilkan kesenian, ilmu pengetahuan, dan aspek-aspek lain dari kebudayaan adalah untuk mengimbangi kekurangan mereka sendiri.

Dengan sedikit mereduksi, Adler hendak memperlihatkan bahwa tindakan-tindakan kreatif adalah reaksi dari perasaan inferioritas kita. Hal ini kemudian menjadi bagian dari tradisi-tradisi psikologi awal, yang kerap mengaitkan hasrat untuk mencipta dan kreativitas dengan masalah-masalah psikologi serta kesehatan mental.

Pendekatan reduktif psikologi atas kreativitas terutama karena melihat pribadi-pribadi yang kreatif, sering kali seperti tidak cocok dengan kebudayaan normatif masyarakat mereka. Van Gogh mengalami psikotis, Gauguin menderita schizoid, Edgar Allan Poe kecanduan alkohol, dan Virginia Woolf benar-benar depresi. Mereka adalah sedikit contoh dari seniman yang eksentrik, hingga yang mengalami kegilaan klinis.

Dalam kajian psikologi modern sendiri, ada suatu survei kepribadian terhadap 291 tokoh terkemuka dunia dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, yang mencoba memeriksa ada tidaknya hubungan antara keunggulan kreatif dan ketidakstabilan mental. Hasil survei tersebut, yang juga dimuat di The British Journal of Psychiatry (165:1994), sungguh mengejutkan.

Berdasarkan survei dengan catatan medis dan data-data sumber pertama yang dapat dipercaya itu, sekitar 75% seniman, dan bahkan 90% pengarang mengalami ketidakstabilan mental. Sebagian besar tokoh seni itu adalah figur terkenal: Wagner, Monet, Van Gogh, Hemingway, hingga Dostoyevsky.

**

MESKI demikian, beberapa psikolog lainnya, seperti Rollo May, R.D. Laing, dan Danah Zohar, atau psikiater Kay Redfield Jameson, mengembangkan pendekatan psikologi akan kreativitas secara lebih positif. Temuan terpenting dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh pendekatan positif tersebut, adalah fakta bahwa sedikit sekali hubungan antara kreativitas dengan kegilaan jangka panjang. Justru, mereka yang berada di ambang gila, atau sekadar menderita skizotipy, yang cenderung mencapai karya-karya terbaik.

Orang yang menderita skizotipy memiliki gejala antara lain: pengalaman tidak wajar, distraksi ringan, sesat pikir, cenderung impulsif (bertindak atas dasar impuls, meracau, bertingkah laku aneh, berpenampilan ganjil), introvert (tertutup), dan menyendiri, mengalami ideasi magis (kecenderungan untuk berpikir bahwa pikirannya mempunyai kekuatan fisik, dapat menjadi kenyataan, atau menghubungkan kejadian-kejadian yang sebetulnya tidak berhubungan), kerap berfantasi dan tidak dapat membedakannya dengan kenyataan, serta mengalami ambivalensi (ketidakmampuan menata pikiran karena melihat beragam nilai, kemungkinan, atau pilihan).

Menurut Prof. Sutardjo A. Wiramihardja, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, riset skizotipy menunjukkan bahwa derajat kesehatan mental bersifat continuum, dari yang normal, menunjukkan penyimpangan ringan, hingga kegilaan klinis yang berat.

Dan dalam continuum itulah, seperti yang diyakini psikolog William James, seniman kerap memiliki suatu "pintu", suatu ambang bergerak (mobile treshold) yang memungkinkan munculnya kekuatan subliminal yang menguasai keadaan mental mereka.

Salah satu gejala skizotipy, yakni ideasi magis dan fantasi, akan memaksa seniman untuk mengimajinasikan hal-hal yang tidak ada, menciptakan tokoh yang tak pernah ada, membawa mereka pada citra visual yang mengarah pada konsep baru, hingga melihat hal-hal dari sudut yang tidak konvensional.

Dengan demikian, karya-karya terbaik seorang seniman bukan sekadar produk dari gangguan mental, ataupun manifestasi dari perasaan berontak atas keterbatasan dirinya (atau kreativitas kompensasi dalam bahasa psikolog Alfred Adler). Sebaliknya, tindakan kreatif muncul dari intelektualitas yang tinggi, terkait dengan kesehatan emosi yang tanpa kepura-puraan, dan ekspresi individu normal bagi aktualisasi diri mereka saat itu.

Gangguan mental ringan, seperti munculnya gejala-gejala skizotipy, memungkinkan seorang seniman menjadi lebih sensitif, kaya imajinasi, serta lebih orisinal dengan asosiasi yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan bagaimana seniman tersebut menyatakan visinya adalah ketika gangguan mental sedang tidak menderanya.

Ketidakstabilan mental, kegilaan eksentrik, terjerumus dalam penggalian eksistensial di kedalaman kepribadian yang tidak disadari ataupun penghancuran tatanan lama untuk mencipta sesuatu yang baru, adalah proses acak, bagian mencerahkan namun sulit dijelaskan dari pembaharuan mental "menjadi autentik". Hal ini berperan dalam memperluas kesadaran seniman, sekaligus membentuk apa yang disebut dengan kecerdasan identitas.

**

BAGI penafsir seni atau sekadar penikmat, model pendekatan apapun yang digunakan untuk menggali dimensi-dimensi mental dari proses kreatif seorang seniman, mungkin tidak akan terlalu penting. Kita hanya akan sepakat bahwa kegilaan yang berguna inilah yang menjadi manifestasi kecerdasan identitas dari seorang seniman.

Kita mungkin akan tetap meyakini, seniman bukan sekadar menyingkap kondisi psikologis dan spiritual yang mendasari hubungan mereka dengan dunia, tapi juga berusaha menggambarkan refleksi emosional dan spiritual masyarakat kebanyakan.

Mereka mengekspresikan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung, perintis Psikologi Analitis terkemuka, sebagai "yang tidak disadari kolektif" (unconscious collective). Melalui karyanya, seniman turut menjelaskan apa yang ada dalam diri manusia pada waktu dan budaya tertentu.

Lebih jauh, seniman, menurut John Naisbitt, adalah "lampu penerang dalam tambang gelap". Mereka menangkap sinyal budaya yang pertama, memetakan wilayah baru, mengundang risiko, sesekali memacu akal sehat kita, dan secara ajaib bisa memperkirakan hal-hal yang akan datang. Mereka, meminjam frase Mc Luhan, adalah a dew line, satu garis embun, yang memberi kita suatu "peringatan awal yang jauh" mengenai apa yang akan terjadi dalam kebudayaan kita di masa depan.

Dan pendekatan psikologi turut menambahkan kenyataan mencerahkan ini dengan sedikit hipotetis: inilah kegilaan yang cerdas, kegilaan yang paling berguna, dan terkadang juga berbahaya.***

#Juga Dipublikasikan di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT, 28 Juni 2009#

Monday, April 20, 2009

PEMILU & PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT

Beberapa hari kemarin (9/4), jutaan masyarakat Indonesia menggunakan hak partisipatifnya dalam ranah politik. Dengan mendatangi tempat pemungutan suara, menggunakan hak pilihnya dan memutuskan pilihan, masyarakat telah ikut berpartisipasi dalam menentukan bentuk bangunan politik dan pemerintahan di negeri ini dalam lima tahun ke depan.

Pesta demokrasi bernama pemilu memang merupakan ruang publik artifisial yang memungkinkan individu berperan aktif bagi komunitasnya. Namun, menurut Karl Marx, seorang filosof terkemuka Jerman, pemilu bukan saja merupakan proses politik yang indah, namun juga ironis.

Dalam Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), Marx mengemukakan bahwa pemilu adalah satu-satunya kesempatan bagi masyarakat biasa untuk menjalankan perannya dalam kehidupan politik.

Hal ini dikarenakan setelah pemilu individu biasanya akan kembali menjadi masyarakat sipil biasa. Tanpa peran dan kontribusi pemikiran yang signifikan bagi pengambilan kebijakan publik. Belakangan, ironi Marxian ini dikenal dengan istilah demokrasi formalistik.

Pendekatan demokrasi formalistik dapat membuat masyarakat teralienasi dari proses pengambilan kebijakan publik. Padahal, kebijakan publik justru melulu berbicara tentang masyarakat, dan bagaimana mengambil tindakan-tindakan publik demi mensejahterakan masyarakat.

Doktrin mensejahterakan masyarakat secara adil sejatinya merupakan kerangka berpikir utama dalam mengambil setiap kebijakan publik. Dan karena kebijakan publik aktual adalah alat dalam pencapaian cita-cita Indonesia yang diinginkan oleh masyarakat banyak, maka kebijakan publik haruslah demokratis, mampu mengakomodasi segala kepentingan dan preferensi dalam masyarakat agar basis legitimasinya kuat.

Dengan terasingnya masyarakat dari proses pengambilan kebijakan publik, mengakibatkan kebijakan publik bukan lagi merupakan kesepakatan bersama, yang mampu membuat semua elemen dalam masyarakat merasa bertanggungjawab untuk melaksanakan dan menyukseskan kebijakan publik tersebut.

Melalui pelaksanaan pemilu, kita bukan sekedar menentukan siapa dan bagaimana proses pengambilan kebijakan publik dalam skala lokal hingga nasional yang nanti akan muncul. Tapi juga menjadi ruang yang representatif bagi kita untuk mengekspresikan peran kita sebagai warga masyarakat yang baik, sekaligus menjadi momen apokaliptikal bagi ironi demokrasi formalistik Karl Marx diatas.

Apa yang akan terjadi pada rangkaian pemilu di tahun 2009 ini, dan bagaimana proses politisasi masyarakat setelahnya, akan memperlihatkan kemungkinan apakah ironi demokrasi formalistik memang benar-benar terjadi di negeri ini.

Pemilihan wakil rakyat di hari kemarin ini, dan pemilihan presiden langsung nanti, tentu saja memberikan kesempatan partisipasi politik yang luas dan otonom kepada masyarakat. Tanpa paksaan dan intimidasi, masyarakat memiliki hak untuk memilih kandidat pemimpinnya menurut preferensi masing-masing. Memilih adalah salah satu pembelajaran demokrasi yang paling esensial.

Namun pembelajaran ini akan menjadi formalistik, jika esensi demokrasi yang lain seperti kontrol terhadap kekuasaan tidak berjalan sebagaimana-mestinya. Juga ketika demokrasi tidak menjamin dibukanya ruang yang lebih luas bagi keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan-kebijakan publik.

Minimnya jaminan keterlibatan masyarakat yang lebih luas inilah yang kerap terjadi di negeri ini. Realitas dari hal ini tampak dengan jelas. Dalam banyak kebijakan publik, terdapat kekosongan argumentative turn. Proses pengambilan kebijakan publik lazimnya bersifat top-down, dan sekaligus mereprentasikan krisis partisipasi masyarakat, terutama dalam level perencanaan.

Dalam dinamika kebijakan publik, protes masyarakat kerap ditafsirkan sebagai rutinitas semata, responnya pun minimalis. Atau, kalaupun sempat terjadi interaksi antara masyarakat dengan pengambil kebijakan, sebagian besar bersifat kosmetik dan superfisial.

Kenyataan diatas inilah yang dapat membuat ironi demokrasi formalistik menjadi sesuatu yang relevan untuk terjadi dalam proses demokratisasi di negeri ini.


Demokrasi Deliberatif
Untuk menjamin tidak berkuasanya ‘watak demokrasi formalistik’ dalam sistem pemerintahan yang berjalan nantinya, maka penguasa yang terpilih nanti perlu menjamin dibukanya ruang-ruang partisipasi publik.

Tentu saja bukan sekedar dibuka dengan interaksi yang formalistik semata, tetapi lebih bernuansa diskursus. Juga bukan ruang publik yang telah terkontaminasi feodalisasi. Dimana ruang publik sekedar menjadi ‘media humas’ bagi opini publik yang diciptakan oleh elite politik, media ataupun ekonomi.

Hal ini menjadi penting, karena selama ini ruang publik justru lebih sering hanya menjadi media sosialisasi bagi produk-produk kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah. Bukan sebagai forum yang menjamin adanya proses argumentative turn, berbentuk dialog yang mempertemukan keinginan pemerintah dengan aspirasi masyarakat banyak.

Dengan demikian, dalam konteks pemilu legislatif dan presiden ini, para kandidat bukan hanya perlu membuka ruang publik melalui kampanye saja, tapi juga perlu menyediakannya pasca mereka terpilih nanti. Di ruang publik inilah nanti, masyarakat berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, dan memberi solusi atas permasalahan publik mereka. Perdebatan yang terjadi di ruang publik akan menghasilkan suatu konsensus yang digunakan sebagai alat legitimasi bagi kebijakan-kebijakan publik.

Dalam filsafat politik modern, penggunaan ruang publik sebagai model penentu kebijakan publik ini dikenal dengan demokrasi deliberatif. Model demokrasi deliberatif diperkenalkan oleh Jurgen Habermas, seorang filosof modern Jerman, dalam buku pentingnya Between Facts & Norms (1992).

Secara radikal, Jurgen Habermas menyatakan bahwa kebijakan publik dan produk-produk hukum yang berkaitan dengan masyarakat adalah hasil diskursus-diskursus yang terjadi di dalam masyarakat. Melalui model demokrasi ini, Jurgen Habermas mengonfirmasi bahwa perdebatan dan konsesus yang terjadi secara demokratis diantara masyarakat, dapat menjadi suatu produk kebijakan publik dengan status hukum yang mengikat.

Dengan postulat tersebut, demokrasi deliberatif merupakan bentuk demokrasi dimana legitimitas hukum tercapai karena hukum lahir dari diskursus-diskursus dalam masyarakat sipil. Masyarakat sipil dapat mengarahkan keputusan-keputusan politik melalui apa yang disebut Jurgen Habermas sebagai ‘kekuasaan komunikatif’.

Di negara asal Jurgen Habermas, Jerman, praktek yang mengarah pada pendekatan demokrasi deliberatif dikenal dengan sebutan ‘Prakarsa Masyarakat’. Ini adalah ruang publik dimana kelompok-kelompok masyarakat berinisiatif mengadakan pertemuan, berdialog sekaligus merencanakan usul-usul pembangungan dan kebijakan publik kepada pemerintah setempat. Hasil dari Prakarsa ini dapat diandalkan, bukan karena berdasarkan aspirasi masyarakat itu sendiri, tetapi karena anggota masyarakat yang terlibat juga adalah para praktisi dan profesional.

Aktivitas Prakarsa ini mendorong anggota masyarakat untuk lebih peduli, lebih aktif berperan, dan memikirkan pengembangan kehidupan mereka bersama menjadi jauh lebih baik. Proses seperti inilah yang perlu digagas oleh pemerintah, dan kemudian ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Bagaimanapun, penciptaan ruang publik yang memuat perdebatan dan konsensus masyarakat terhadap masalah-masalah mereka sendiri adalah proses demokratisasi yang panjang. Ia hanya dapat dikembangkan dalam budaya demokratis yang bebas dan beradab, juga dalam budaya yang bersedia untuk belajar secara berkelanjutan.

Dan seperti keyakinan para pundit politik di negeri ini, pembelajaran demokratisasi yang panjang tersebut dapat diawali dari partisipasi aktif kita dalam pemilu legislatif secara langsung kemarin, dan pemilu presiden nanti.

Pada akhirnya, partisipasi aktif kita dalam rangkaian pemilu langsung saat sekarang bukan sekedar ruang belajar untuk menjalankan peran kita sebagai warga masyarakat dalam kehidupan politik, tapi juga menjadi salah satu realitas apokaliptikal bagi ironi demokrasi formalistik Marxian diatas.

*Juga di publikasikan di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT, 11 April 2009

Thursday, April 09, 2009

MENGAPA KITA MENGAMBIL RESIKO?

Seiring dengan perkembangan tekhnologi informasi, beragam peristiwa dan momen memungkinkan untuk diabadikan, kemudian dipublikasikan secara umum dalam jaringan internet.

Salah satu fenomena, yang terkait dengan tingkah laku remaja, adalah publisitas video yang mengabadikan perilaku seksual dan kekerasan remaja, yang belakangan ini muncul dan diunduh oleh banyak orang dari internet. Dengan kemampuan media informasi ini, kita disuguhkan puncak dari suatu ‘gunung es’, yang terkait dengan rangkaian permasalahan di sekitar remaja.

Publisitas itu tetap menunjukkan bahwa ada ‘kehidupan lain’ di luar sana, yang dialami dan dijalani remaja-remaja kita, yang terkadang tidak diketahui oleh orangtua dan masyarakat.

Kekerasan diantara remaja, terlibat dalam geng motor, mengkonsumsi NAPZA, tawuran, kebut-kebutan di jalan raya, hingga having sex sebelum menikah, adalah tingkah laku mengambil resiko.

Kenapa disebut beresiko? Ini karena kita terkadang tidak siap menghadapi konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan dari tingkah-laku tersebut. Kita biasanya tidak terlalu khawatir, karena merasa banyak remaja lain yang juga melakukannya. Kita juga merasa yakin bahwa tingkah laku tersebut hanya diketahui oleh kita saja.

Mungkin kita biasa-biasa aja melakukan semua hal, sepanjang kita memang menyukainya. Namun, tidak bagi orang tua. Bahkan, bagi kita nanti, ketika kita menjadi orang tua di masa depan. Mengkonsumsi drugs, tawuran, terlibat dalam kekerasan kelompok ataupun having sex sebelum menikah, bagi orang tua, dan dari sudut pandang manapun, adalah suatu tingkah laku yang mesti dihindari.



Minim Informasi
Lalu, kenapa kita berani melakukan tingkah laku yang memiliki resiko diatas?

Untuk mengetahuinya, banyak peneliti sosial yang menyarankan kita untuk lebih memahami bagaimana proses berpikir (kognitif) dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh remaja. Karena, tingkah laku kita merupakan hasil dari keputusan yang dibuat oleh kita itu sendiri.

Salah satu pendekatan ilmiah yang biasanya digunakan untuk memahami hal ini adalah Behavioral Decision Theory. Dari teori ini, keputusan bertingkah laku dengan resiko tertentu dapat dianalisis dari proses berpikir kita.

Banyaknya informasi yang kita miliki akan menentukan tingkah laku apa yang kita tampilkan. Informasi yang minim dan salah akan membuat kita merasa benar, ketika kita melakukan tingkah laku yang beresiko.

Menurut pendekatan ini juga, kita memutuskan untuk mencari pengalaman-pengalaman baru yang beresiko, biasanya, disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengevaluasi resiko dari tingkah laku secara akurat. Kita terkadang mengabaikan akibat-akibat jangka panjang yang negatif.

Kemungkinan lain mengapa kita memutuskan tingkah laku beresiko adalah perasaan 'invulnerable', atau perasaan 'tak-terkalahkan' dalam diri kita. Gagasan ini sepertinya terlalu berlebihan. Namun, jika kita mengamati dengan lebih seksama, maka perasaan 'tak-terkalahkan' ini cukup masuk akal.

Kita seringkali menganggap diri kita dapat mengatasi resiko yang mungkin muncul dari tingkah laku tertentu. Kita merasa masih muda, kuat, sehat dan bugar, independen, tidak lagi seperti anak-anak, bertanggungjawab serta menganggap dapat memutuskan segalanya secara rasional.

Akibatnya, ketika kita memutuskan mencoba pengalaman beresiko pertamakali, dan tidak terjadi sesuatu yang buruk, maka kita cenderung meremehkan resiko jangka panjang dan meneruskan aktivitas tersebut.

Ketika kita mencoba pengalaman having sex pertama kali bersama pasangan misalnya, dan tidak terjadi sesuatu yang buruk, maka kita biasanya mengabaikan resiko jangka panjang dan meneruskan aktivitas seksual kita.

Selain itu, keputusan untuk aktif terlibat dalam kegiatan beresiko juga dapat terkait dengan faktor lingkungan eksternal. Yang biasanya berbentuk minimnya perhatian orangtua dan keluarga, tekanan dari teman, keinginan mengikuti kelompok teman sebaya yang juga melakukan hal yang sama, serta lingkungan fisik yang potensial.

Bagaimanapun, apa-apa yang berpotensi mendorong kita untuk melakukan tingkah laku beresiko diatas, sebagian besar diantaranya bergantung pada kita sendiri. Seberapa banyak informasi yang kita miliki untuk digunakan dalam mengambil keputusan, bagaimana kita berpikir dan meng-komunikasikan perihal resiko yang tidak diinginkan, serta bagaimana kita mengelola hubungan pertemanan yang berpotensi menjebak kita dalam aktivitas beresiko.

Apakah kita memilih untuk tidak, atau untuk melakukan tingkah laku beresiko, sepenuhnya bertumpu pada kesadaran kita, dan bagaimana kita konsisten pada komitmen untuk tidak melakukan hal-hal tersebut. Inilah yang terpenting.