Monday, January 12, 2009

QUO VADIS, 2009?

Hidup itu netral.

Itulah metafora yang disimpulkan Fred Spencer, penulis buku The Jungle Is Neutral. Spencer adalah tentara Inggris semasa Perang Dunia II pada sebuah garnisun kecil, di sebuah desa di Singapura. Ia menuliskan pengalamannya dalam bertahan hidup di hutan, selama lebih dari 9 bulan, setelah Inggris kalah di kepulauan itu.

Menurut Spencer, hidup ternyata sama seperti hutan. Kemampuan bertahan bergantung pada semangat, menggali kemampuan diri, dan kemudian memanfaatkannya. Prinsip ini berlaku bahkan di medan yang sama sekali belum kita kenali.

Penafsiran Spencer atas pengalaman hidupnya ini sekadar mengonfirmasi apa yang kita ketahui sejak lama, bahwa bertahan hidup dan beradaptasi adalah kualitas eksistensial terpenting dari manusia. Kualitas ini terkait erat dengan bekerjanya neo-korteks (perangkat otak berpikir), yang tidak dimiliki mahluk hidup lain di muka bumi ini.

Seperti yang dikatakan oleh Robert Ornstein, otak ternyata tidak dirancang pertama-tama untuk berpikir. Tetapi untuk belajar, bereaksi, dan beradaptasi demi kelangsungan hidup manusia. Manusia mampu meneliti lingkungannya, membuat sesuatu yang baru, meramalkan masa depan, dan bahkan memanipulasi kondisi fisik demi tujuan tertentu. Intinya, apa yang bisa dipikirkan, maka dapat dilakukan!

Lalu apa hubungan antara hidup yang netral, potensi beradaptasi, dan kita (Anda yang membaca ini dan penulis sendiri) saat ini? Kita setidaknya dapat mengadaptasi tema ini dalam tren-tren pembicaraan yang sedang hangat belakangan ini.

Salah satu pilihan adaptasi yang baik adalah momentum pergantian tahun, yang baru saja kita lewati bersama-sama. Perayaan tahun baru, dengan atau tanpa sense of crisis, tidak semuanya hura-hura, liburan dan pesta, atau kebisingan yang disengaja. Ada yang berkhidmat dalam rasa syukur, merefleksikan, dan mengevaluasi setiap hal selama setahun yang lalu. Ada juga yang menjadikan detik pergantian tahun sebagai deklarasi target-target yang ingin dicapai tahun depan.

"Wish of the year"
Alan Kay, eksponen penting di Pusat Riset Pendidikan Palo Alto, Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakannya. Perencanaan adalah proses lebih awal dari penciptaan. Inilah bentuk adaptasi sistematik manusia, meskipun sering kali diperkuat oleh keputusan-keputusan intuitif dan cenderung emosional.

Pada sistem linguistik, menurut Ferdinand Saussure, seorang filosof Prancis yang mencoba mengonstruksi ulang pemaknaan bahasa atas dunia, terdapat logika oposisi biner untuk setiap konsep. Setiap hal di dunia ini memiliki negasi, oposisi, atau sesuatu yang berlawanan, yang lazimnya diungkapkan melalui bahasa.

Dan dalam konteks perencanaan ini misalnya, konsep berlawanan dari hidup yang terencana adalah proses acak, tidak sistematis atau fleksibel. Kita sering mendengar idiom hidup seperti air, mengalir, let it flow.

Namun demikian, boleh jadi tidak ada yang benar-benar mengikuti pola hidup tanpa rencana tersebut. Disadari atau tidak, setiap dari kita pasti memiliki tujuan dalam hidup, entah itu dalam jangka pendek ataupun panjang.

Ilmu klasik manajemen menegaskan bahwa adanya tujuan merupakan bagian dari suatu proses perencanaan. Sehingga yang ada hanyalah gradasi perencanaan dalam hidup. Jika kita memilih untuk menghadapi hidup apa adanya, mengalir begitu saja, mungkin kita akan menemui kejutan-kejutan yang tak terbayangkan. Akan tetapi, sesuai dengan filosofi air, kita juga bisa terjebak dalam arus yang tidak bisa kita kendalikan.

Dengan demikian, pada momentum pergantian tahun ini, tidak ada salahnya untuk memiliki rencana bagi hidup kita. Lagipula, kita juga leluasa memilih tingkatan dan caranya. Pencapaian terbaik sering kali diawali dari khayalan "gila", yang bisa kita lakukan sambil mendengar Eine Kleine Nachtmusik-nya Mozart. Atau bisa juga diawali dengan menghayati film-film, cerita hidup dan kisah nyata yang inspiratif.

Kita bisa mencatat apa yang ingin kita capai dalam Daftar 101 Keinginan. Wish of the year. Atau mengurainya dalam bidang spesifik, semisal: target akademis, pekerjaan, kualitas pribadi yang ingin dipelajari, hubungan sosial, ataupun kontribusi kita di masyarakat. Rencana imajinatif seperti itu juga penting, dan dapat membuat kita mengalir mengikuti tujuan ideal kita.

Ada juga media perencanaan yang berpresisi lebih tinggi. Seperti penggunaan kaidah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Time Bound), yang mendesain pencapaian tujuan dalam langkah terkecil dan dapat diukur, sebuah analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), ataupun penerapan SAP (Strategic Advantages Profile) yang lazim digunakan dalam metode perencanaan strategis.

"Metamorphoself"
Selain membantu kita mengarahkan hidup, perencanaan setidaknya dapat membawa kita pada keadaan mental yang positif. Karena, ke semua proses menempatkan kita pada pengembangan diri yang berkelanjutan. Ia membuat kita fokus pada tujuan, mengeksplorasi diri dan melakukan tindakan yang diperlukan bagi pencapaian tujuan tersebut.

Manfaat yang terbaik tentu sikap optimistis; suatu sikap positif yang dapat dipelajari siapa pun. Imajinasi mengenai cetak biru masa depan kita pastilah yang terbaik. Melihat dan merencanakan masa depan yang lebih baik inilah yang dapat menstimulasi positive thinking dan sikap optimistis kita, sekaligus meredam bahaya negaholics (selalu berpikiran negatif).

Bagaimanapun, masih banyak segi taktis lain yang bermanfaat dari perencanaan. Namun, tetap saja, apakah kita akan mendesain rencana untuk tahun ini atau tidak, adalah sebuah pilihan. Kita yang memilih bagaimana menjalani kehidupan.

Quo vadis 2009, hendak diarahkan ke mana kehidupan kita di tahun 2009 ini? Semuanya bergantung pada kita. Belum terlambat untuk sekadar merencanakan resolusi dan pencapaian-pencapaian kita di tahun ini.

Tanpa obsesi untuk menyimpulkan, perencanaan mungkin adalah bentuk sintesis, atau komplemen dari kenetralan hidup. Semoga kita semua menjadi person of the year di akhir tahun 2009 ini. Minimal bagi diri kita sendiri.***

No comments: