Sunday, February 24, 2008

PUSAT BUDAYA MODERN

Salah satu aktivitas perdagangan yang paling menonjol saat sekarang adalah keberadaan pusat perbelanjaan modern, seperti supermall dan hypermarket. Inilah super pasar (hyper-market) yang melampaui pasar dalam pengertian konvensional.

Strategi ruang penjualan yang luas (large selling space), kenyamanan (convenient), penataan ruangan, banyaknya pilihan dan perubahan harga (price strategy) yang memanjakan konsumen, membuat ekspansi super pasar ini begitu cepat.

Survey yang dilakukan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mengungkapkan bahwa pasar tradisional mengalami (pertumbuhan) minus 8%, sementara pasar modern tumbuh 35%. Artinya pasar tradisional bangkrut dan menyusut tiap harinya, sedangkan hypermarket dan supermall baru bermunculan di setiap kota besar.

Meski kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat semakin mengkhawatirkan, banyak orang mempercayai kenyataan bahwa konsentrasi massa di pusat-pusat kebudayaan modern tidaklah pernah terlalu sepi.

Mall yang dipadati pengunjung adalah kelaziman. Ini karena mewabahnya mall-mall yang dapat diakses oleh siapapun dengan cepat, terutama di kota-kota besar, menawarkan pengalaman yang begitu menyenangkan; bahkan ketika kita tidak melakukan transaksi jual beli apapun.

              
 Filsafat Mall
Mall sendiri adalah perkembangan arsitektural modern yang diperkenalkan pertama kali oleh Victor Gruen (1903-1980), seorang imigran Austria keturunan Yahudi. Menurut Jeffrey Hardwick, penulis biografi bapak mall modern tersebut, Victor Gruen berhasil mengkombinasikan seni dan perdagangan dalam memotret bagian terdalam dari kepribadian orang-orang Amerika.

Inovasi monumental Gruen adalah mengintroduksi shopping mall yang pertama di Edina, negara bagian Minnesota di Amerika Serikat, pada tahun 1956. Mall ini didesain bukan hanya sebagai tempat berbelanja, tapi juga menyediakan pusat interaksi, menawarkan komunitas alternatif, hiburan dan bahkan ‘pencerahan’.

Gagasan Gruen ini dimaksudkan untuk menjadikan mall sebagai substitusi pusat kota. Suatu fokus interaksi sosial masyarakat, dimana orang setia pergi kesana setiap hari. Mall yang ditasbihkan sebagai tempat untuk menjauhkan orang-orang dari kerasnya kehidupan sehari-hari dengan kesenangan dan hiruk-pikuk pilihan yang tampak mencengangkan.

Saat sekarang, pragmatisme ekonomi telah mengubah mall menjadi raksasa ganjil di tengah kota. Mall yang mencerminkan ledakan citra konsumeris yang megah.

Mall benar-benar tidak lagi berfungsi sebagai arena transaksi jual beli semata. Tetapi juga sebagai tempat akulturasi, tempat belajar dan mencari nilai-nilai, membangun citra diri serta eksistensi, menjadi bagian dari pencarian makna kehidupan, dan sekaligus sebagai wahana bagi ritual-ritual abad 21.

Menurut pemikir posmodern Prancis, Jean Baudrillard, mall adalah molekul DNA sosial, sebuah tempat untuk mempelajari etika abad 21: cara bertingkah laku, cara duduk, bicara dan mengekpresikan diri, cara makan dan minum, penampilan tubuh, wajah, gaya hunian, dan banyak aspek lainnya, agar sesuai dengan kriteria-kriteria sosial-ekonomi di abad 21 ini.

Bagi Yasraf Amir Piliang, penulis otoritatif dalam bidang cultural studies, mall adalah pusat bagi kloning kebudayaan yang berhasrat untuk menciptakan keseragaman budaya. Inilah bentuk reproduksi sempurna kebudayaan pragmatis Barat, yang dikembang-biakkan dan disebarluaskan secara global.

Dalam gaya yang lebih persuasif, Hollywood memperkenalkan filsafat mall ini melalui film Scenes from a Mall, produksi tahun 1991. Film yang dibintangi Woody Allen itu menegaskan mall sebagai arena dimana kehidupan sepenuhnya dapat dinikmati; mall telah menjadi pengganti realitas, dimana berbelanja tidak lagi sekedar berbelanja, tetapi pengalaman yang sepenuhnya menyenangkan.

Bagaimanapun, perkembangan pasar modern (di Indonesia) adalah realitas masa kini yang tak terhindarkan. Seperti laporan Bussiness Intelligence Report dua tahun lalu, jenis pasar modern ini diperkirakan menguasai 38,5% dari total pasar ritel dunia sebesar Rp 87,5 triliun. Inilah bagian dari siklus global yang berhubungan dengan perekonomian, yakni revolusi pertanian, revolusi industri, dan kini bergerak ke arah revolusi sektor jasa dan pengetahuan.

Revolusi yang kemudian mendorong mall-mall menjadi pusat budaya alternatif yang dominan. Tempat dimana orang-orang beraktivitas dan menemukan filsafat eksistensi dari diri mereka: saya berbelanja, maka saya ada.

1 comment:

Haryanto Soedjatmiko said...

Thanks for all…it’s my 1st book..:-) Not so expensive (29rb), but it’s a LIMITED EDITION to commemorate BUY NOTHING DAY on Nov 29th, 2008. GET IT SOON (only in Jakarta, Bandung, Jogjakarta, & Surabaya)! Another cities? You’re welcome to contact…

Thanks for Mr. Hermawan Kartajaya (for the foreword), Mr. Fred Istanto (for the closing sentence), Mr. Herry Priyono (S2-STF Driyarkara), Mr. M. Sastrapratedja (S3-STF Driyarkara), Mr. Irwan Abdullah (S2-UGM), Mr. Bambang Sugiharto (Unpar), Mr. Yasraf Pilliang (ITB) …for their contributions on my book