Thursday, December 27, 2007

QUO VADIS, 2008?

Hidup itu netral.


Itulah metafora yang disimpulkan oleh Fred Spencer, penulis buku The Jungle Is Neutral. Spencer adalah tentara Inggris semasa Perang Dunia II pada sebuah garnisun kecil di Singapura. Ia menuliskan pengalaman survive dalam hutan, selama 9 bulan, setelah Inggris kalah di kepulauan itu.


Menurut Spencer, hidup ternyata sama seperti hutan. Hidup tidak ‘berusaha’ menghancurkan, dan tidak pula mendukung kita. Kemampuan bertahan bergantung pada semangat, menggali kemampuan diri dan kemudian memanfaatkannya. Bahkan di medan yang sama sekali belum kita kenali.


Hal ini terjadi karena manusia, dengan neo-korteksnya (perangkat otak berpikir) yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lain di muka bumi ini, mempunyai kapasitas untuk beradaptasi.


Seperti yang dikatakan Robert Ornstein, otak ternyata tidak dirancang pertama-tama untuk berpikir. Tetapi untuk belajar, bereaksi dan beradaptasi demi kelangsungan hidup. Mahakarya ini, yang memiliki kemungkinan hubungan antar sel lebih banyak dari jumlah atom jagat raya, menempatkan manusia sebagai spesies yang superior. Dan masih bertahan hingga saat ini.

Manusia mampu meneliti lingkungannya, membuat sesuatu yang baru, meramalkan masa depan, bahkan memanipulasi kondisi fisik demi tujuan-tujuan tertentu. Intinya, apa yang bisa dipikirkan, maka dapat dilakukan!


Lalu apa hubungan antara hidup yang netral, potensi beradaptasi dengan kita? Kita setidaknya dapat mempertautkan tema ini dengan trend-trend pembicaraan yang sedang hangat saat ini.


Salah satu pilihannya adalah momentum pergantian tahun. Perayaan tahun baru, dengan atau tanpa sense of crisis, tidak semuanya hura-hura, liburan dan pesta, atau kebisingan yang disengaja. Ada juga yang berkhidmat dalam rasa syukur, merefleksikan dan mengevaluasi setiap hal selama setahun yang lalu.


Yang lebih mencerahkan, ada yang menjadikan detik pergantian tahun sebagai deklarasi target-target yang ingin dicapai tahun depan.


Wish of the Year

Alan Kay, eksponen penting di Pusat Riset Palo Alto, pernah mengatakan kalau satu-satunya cara untuk meramal masa depan adalah dengan menciptakannya.

Dan proses lebih awal dari penciptaan adalah perencanaan; inilah bentuk adaptasi sistematik manusia, meskipun seringkali diperkuat oleh keputusan-keputusan intuitif, serta cenderung emosional.


Dalam struktur linguistik Ferdinand Saussure, seorang filosof Prancis yang berusaha me-rekonstruksi pemaknaan atas dunia, terdapat logika oposisi biner untuk setiap konsep. Oposisi untuk terencana adalah proses acak, tidak sistematis atau fleksibel.


Kita sering mendengar idiom hidup seperti air, mengalir, let it flow dan tanpa rencana. Tetapi, boleh jadi, tidak ada yang benar-benar mengikuti pola hidup tanpa rencana tersebut. Karena setiap manusia pasti memiliki tujuan, disadari atau tidak, baik jangka pendek ataupun panjang.

Dengan adanya tujuan, berarti kita telah melewati salah satu proses dari perencanaan. Sehingga yang ada hanyalah gradasi perencanaan dalam hidup; dari yang tanpa disadari, sampai pada bentuk yang sangat detail.


Jika kita memilih untuk menghadapi hidup apa adanya, mengalir begitu saja, mungkin kita akan

menemui kejutan-kejutan yang tak terbayangkan. Tapi, selaras dengan filosofi air, kita juga bisa terjebak dalam arus yang tidak bisa kita kendalikan.


Untuk itu, tidak ada salahnya untuk punya rencana tahun depan. Lagipula, kita leluasa memilih tingkatan dan caranya.


Rencana yang sederhana, adalah kebebasan kita dalam berimajinasi mengenai apa yang kita inginkan. Pencapaian terbaik seringkali diawali dari khayalan ‘gila’, yang bisa dilakukan sambil mendengar Eine Kleine Nachtmusik-nya Mozart.


Kita bisa mencatatnya dalam daftar 101 keinginan. Wish of the year. Atau mengurainya dalam bidang spesifik, semisal: target akademis, pekerjaan, kegiatan atau keterampilan baru yang harus dicapai, relasi sosial ataupun kehidupan asmara.

Rencana imajinatif seperti ini juga penting, dan dapat membuat kita mengalir mengikuti tujuan ideal kita.


Ada juga media perencanaan yang ber-presisi lebih tinggi. Seperti penggunaan kaidah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Time Bound), yang mendesain pencapaian tujuan kita dalam langkah terkecil dan dapat diukur.


Semakin kita dewasa, dan semakin kompleks permasalahan yang kita hadapi, membuat perencanaan bertambah rumit dan detail, layaknya sebuah analisis SWOT ataupun penerapan SAP (Strategic Advantages Profile) dalam metode perencanaan strategis.

Kita juga dapat meminta bantuan program komputer, yang secara cerdas membantu kita dalam berpikir linear serta sekuensial.


Metamorphoself

Hebatnya lagi, selain membantu kita mengarahkan hidup, perencanaan setidaknya dapat membawa kita pada keadaan mental yang positif. Karena kesemua proses menempatkan kita pada pengembangan diri yang berkelanjutan.


Manfaat yang terbaik tentu sikap optimis, sikap yang dapat dipelajari oleh siapapun. Rencana kita, atau imajinasi mengenai cetak biru masa depan kita pastilah yang terbaik, sehingga dapat men-stimulasi positive thinking dan sikap optimis, sekaligus meredam negaholics (selalu berpikiran negatif).


Bagi mereka yang merencanakan perubahan revolusioner dalam hidup, menurut Charles Garfield, guru besar Universitas California, berarti menjadi bagian dari manusia-manusia yang berani keluar dari ‘wilayah aman’-nya. Dimana hasrat perubahan ini dapat memicu energi quantum; yakni suatu interaksi potensi dalam diri manusia yang membentuk energi dahsyat, dapat ditularkan pada orang lain, dan berpotensi membawa manusia pada level yang tidak terkira sebelumnya.


Dari hasrat perubahan ini pula, kita berusaha mengenali potensi diri dan memanfaatkannya dengan optimal, seperti cerita Fred Spencer diatas.


Dan sesuai dengan keyakinan Sun Tzu, kita semestinya akan memenangi seribu perang sekalipun dalam hidup, ketika kita sanggup mengenali diri, lingkungan dan musuh-musuh kita.

Masih banyak segi taktis lain yang bermanfaat dari perencanaan. Namun, tetap saja, apakah kita akan mendesain rencana untuk tahun depan atau tidak, adalah sebuah pilihan. Kita yang memilih bagaimana menjalani kehidupan.


Quo vadis 2008, hendak diarahkan kemana kehidupan kita di tahun 2008 nanti? Semuanya bergantung pada kita. Belum terlambat untuk sekedar merencanakan resolusi dan pencapaian-pencapaian kita di tahun depan.


Tanpa obsesi untuk menyimpulkan, perencanaan mungkin adalah bentuk sintesa, atau komplemen dari kenetralan hidup.

Semoga kita semua menjadi person of the year di akhir tahun ini. Minimal bagi diri kita sendiri.


1 comment:

Asha said...

Well said.